All Posts By

Michel Rosmolen

Coronavirus Lockdown Gives Animals A Rare Break from Noise Pollution

By | Articles, blog, Environmental Noise, Kebisingan, News

The COVID-19 lockdown could become an unprecedented natural experiment in noise pollution. Some of the world’s most vocal animals — birds and whales — might already be benefiting from a quieter environment.

While a drop in transportation during the coronavirus lockdowns has led to lower pollution levels across the world, the slowdown in traffic has also lowered another big polluter: noise.

According to the World Health Organization (WHO), noise pollution affects over 100 million people across Europe and, in Western Europe alone, road traffic accounts for premature deaths equivalent to the loss of roughly “1.6 million healthy years of life.” 

Take the disturbance to human health out of the equation, and noise remains a big source of pollution for the other inhabitants of the planet as well, namely, animals. 

But how much have animals in countries on lockdown really benefited from the drop in noise levels? Turns out, that’s a very difficult question to answer.

Birds will benefit the most

Birds — by far the most visible animals found in cities, and the most vocal — stand to be among the biggest beneficiaries of quieter streets and parks. 

The signals birds send each other through song is a means of survival. Without the ability to sing, hear and be heard, birds would have a difficult time finding a mate or defending their territory from predators.  

There are reports of seeing more birds during the lockdown. Ornithologists say this is due to increased awareness of people’s surroundings while at home

Human activity influences bird behavior, even prompting them to communicate at less ‘busy’ times of day

The swift rise of human-made noise — also known as anthropogenic noise — over the past century has made this harder for birds. 

Just like humans who have to speak up in a loud setting, birds, too, have to sing louder to communicate properly in today’s noisy world, according to ornithologist Henrik Brumm, who heads the research group for the communication and social behavior of birds at the Max Planck Institute for Ornithology near Munich.

“This happens really fast,” Brumm told DW. “We found out that it takes roughly 300 milliseconds, so less than 1 second, for birds to readjust when the level of noise rises. So, when their surroundings become louder, they sing louder, too.”

Are birds getting quieter? Maybe.

Birds are already known to sing more quietly in the early morning hours of the weekends, says Brumm. The reason: there’s less traffic to compete with. 

With Europe on lockdown, Germany for its part, has seen passenger air travel slashed by over 90%. Moreover, car traffic has dropped by more than 50% and trains are running at less 25% their usual rates.

A recent study from the Max Planck Institute also suggests that chronic traffic noise can have a negative effect on embryo mortality and growth in zebra finches. This, in turn, could mean that the current lockdowns coinciding with mating season could lead to not only more, but also healthier hatchlings. That is, as long as their parents choose a spot that’s still safe from humans after the lockdown ends.

Though it’s difficult to speculate without real-time data, Brumm says, it stands to reason that the current period of quiet could mean birds might be singing more softly than usual, which would already be a huge benefit.

At land or sea, noise is bad news for animals

Birds aren’t the only animals that stand to benefit from less noise. According to a recent study published in the journal Biology Letters, noise pollution affects any number of creatures ranging from frogs, to shrimp, to fish, mammals, mussels and snakes.

In fact, another habitat garnering more and more attention for noise pollution is the ocean. As bioacoustics expert Christopher Clark described it in with Yale’s environmental magazine, the din from oil and gas activity, for example, is filling entire ocean basins with “one big storm of noise.”

While research on noise pollution and marine life, just like with ornithology, is in its early stages, a landmark study conducted in the days after 9/11 found that less shipping traffic seemed to make whales calmer.

Examining the feces of right whales — a species of baleen whale that can reach 15 meters in length and weigh up to 70 tons — researchers found that fewer ships in the waters along the US-Canadian coast correlated with lower stress hormones.

The noise levels from shipping traffic, whose 20–200 Hz hum disturbs sea life despite being a low frequency, decreased by 6 decibels, with a significant reduction below 150Hz .

An unprecedented time for researchers

Just like ornithologists, marine life researchers have also found correlations between noise and interruptions in behaviors like foraging and mating. Whales, like birds, also “mask.” That is to say, they sing louder to be heard over noise disturbances, be they high or low frequency sounds.

“It’s really a huge footprint that these activities have in the ocean,” according to Nathan Merchant, an expert on noise and bioacoustics at the UK’s Centre for Environment, Fisheries and Aquaculture Science (CEFAS).


And the sources of noise pollution — ranging from shipping, to wind farms, to the sequence of powerful blasts from seismic air gun tests used to locate oil and gas deposits in the ocean deep — are even harder to escape in the ocean than on land.

“It has a lot to do with how sound travels under water. Sound can travel much further and much faster than in air,” Merchant told DW.

Instruments off the coast of North America, for example, can detect seismic air gun testing as far away as the Brazilian coast.

With many cruises suspended, oil freighter traffic impacted by an oil price crash and rig activity being run by skeleton crews to curb the spread of COVID-19, marine biologists could potentially find a treasure trove of data once they’re allowed to go back into the field. 

“We have underwater noise recorders at sea as we speak, but they aren’t cabled to land. So, we’ll find out when get out on a ship in several months’ time and get the data back,” Merchant said. 

The more interesting question by that point might be how marine life responds to a sudden reintroduction of the human cacophony after an unexpected period of rest.

Kebisingan Lingkungan Kerja

By | All, Articles | No Comments

Kebisingan Lingkungan Kerja

Gangguan pendengaran akibat bising adalah kondisi kesehatan kerja yang paling umum dicegah di dunia.

Kebisingan didefinisikan sebagai ‘suara yang tak diinginkan’. Saat seseorang mendengar suara, bisa jadi suara tersebut merupakan kebisingan bagi orang lain, namun siapapun yang terpapar bising sangat berpotensi berisiko. Semakin tinggi tingkat kebisingan, dan semakin lama seseorang terpapar, maka risiko menderita sakitnya semakin tinggi pula.

Jutaan pekerja di dunia terpapar tingkat kebisingan yang sangat berisiko terhadap pendengaran mereka. Kebisingan berlebih adalah bahaya lingkungan kerja dengan banyak efek yang merugikan, tak hanya pekerja yang terlibat dalam operasi yang bising, namun juga orang-orang sekitarnya. Efeknya dapat membuat kerusakan pendengaran sementara atau permanen dan dapat menurunkan efisiensi pekerja. Seseorang yang menderita dari pendengaran yang buruk, baik itu karena umur atau penyakit, dapat membuat masalah mereka semakin parah karena paparan tinggi dari bising di lingkungan kerja. Hal ini dapat pula menimbulkan kecelakaan karena keterbatasan komunikasi berbicara, kesalahpahaman instruksi lisan, dan menutupi suara peringatan bahaya.

Sumber Utama Kebisingan Lingkungan Kerja

Hasil gambar untuk noise at work

Kebisingan adalah bahaya yang umum dan ada hingga batas tertentu di hampir semua tempat kerja. Hal ini merupakan bahaya kesehatan paling umum dalam industri hiburan, manufaktur, agrikultur, tekstil, pertambangan dan penggalian, makanan dan minuman, kayu, metal, dan konstruksi.

Beberapa sumber bising umum yakni:

  • musik yang keras
  • penggunaan alat-alat berat
  • transportasi tempat kerja
  • peralatan listrik seperti gergaji dan cutter
  • lini produksi
  • peralatan pneumatik seperti bor, gerinda, dan pistol rivet
  • motor dan generator listrik
  • proses fabrikasi bahan
  • ruang pabrik dengan peralatan ventilasi yang bekerja kontinu

Tingkat Kebisingan yang Berbahaya

Sangat sulit menentukan berapa tingkat bising yang benar-benar aman, karena tiap individu dapat berbeda pengaruhnya terhadap kebisingan. Namun, tingkat kebisingan di atas 75-80 dB(A) diketahui dapat menyebabkan kerusakan pendengaran. Semakin keras bisingnya, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk menyebabkan kerusakan. Misal, tingkat bising pada 85 dB(A) butuh waktu 8 jam untuk menyebabkan kerusakan pendengaran, sedangkan bising 100 dB(A) mulai merusak sel rambut pada telinga setelah hanya 30 menit.

Equivalent noise level exposures table

Untuk membuktikan apakah tingkat kebisingan berbahaya ada di lingkungan kerja, harus dipastikan apakah percakapan normal pada jarak 1 meter dapat dilakukan. Jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi, maka sangat mungkin penyebabnya adalah tingkat bising yang tinggi.

Tabel berikut menunjukkan rekomendasi batas tingkat kebisingan dari World Health Organization untuk berbagai pekerjaan:

World Health Organization's recommended noise levels in various occupations

Tanda Umum dari Hilangnya Pendengaran

Sangat penting untuk mengetahui masalah hilangnya pendengaran sedini mungkin, karena tanda-tanda awal dapat membantu mengidentifikasi masalah dengan cepat. Tanda awal kehilangan pendengaran dapat berupa:

  • Telinga berdering
  • Tidak bisa mendengar suara lembut dan bernada tinggi
  • Suara bicara dan suara lain teredam
  • Sulit memahami percakapan berjarak atau dalam keramaian
  • Mendengar musik atau menonton televisi dengan volume yang lebih tinggi dari orang lain
  • Sulit mendengar telepon atau bel
  • Sulit menentukan dari arah mana suara bising berasal
  • Biasa merasa capek atau stres karena harus konsentrasi saat mendengar
  • Menjawab atau merespon percakapan dengan tidak sesuai
  • Membaca bibir atau mengamati wajah saat bercakap
  • Merasa terganggu terhadap orang lain karena tidak mengerti mereka
  • Merasa gugup saat mencoba mendengar dan mengerti orang lain

Riset menyebutkan bahwa butuh 10 tahun sejak seseorang tahu dia mengalami kehilangan pendengaran sebelum melakukan sesuatu.

Sumber: IOSH

Beragam Bahaya Polusi Suara

By | All, Articles | No Comments

Beragam Bahaya Polusi Suara

Hasil gambar untuk AIRCRAFT NOISE

Sekarang ini, hampir mustahil kita dapat menemukan tempat yang benar-benar sunyi dan menenangkan. Kalaupun anda dapat hidup di pelosok yang jauh dari rute pesawat, lalu lintas, dan pekerjaan bangunan, rumah anda kemungkinan besar tetap dipenuhi oleh suara komputer dan peralatan modern lainnya. Anda mungkin bahkan dapat tetap mendengar suara berdeham yang tidak diketahui pasti asal suaranya.

Suara tersebut tidak hanya menggangu. Tren menunjukkan bukti yang semakin konkret bahwa bising lingkungan jangka panjang di atas tingkat tertentu dapat memberi dampak negatif pada kesehatan. Efek ini dapat berupa fisik, mental, dan bahkan mengganggu proses belajar anak.

Riset terkini menunjukkan bahwa lalu lintas jalan raya dan bandara memiliki kebisingan yang dapat meningkatkan resiko tekanan darah tinggi, terutama paparan bising di malam hari. Sebuah studi terkait bising pesawat di bandara Heathrow, London, menemukan bahwa tingkat suara yang tinggi dari bising pesawat memiliki hubungan dengan resiko masuk ke rumah sakit bahkan kematian yang meningkat, disebabkan oleh penyakit seperti struk, penyakit jantung koroner, dan kardiovaskular.

Studi besar lainnya yang memperhatikan paparan suara pesawat pada periode waktu yang cukup lama, yakni 15 tahun, menunjukkan bahwa kematian karena serangan jantung meningkat saat bising lebih tinggi dan berdurasi lebih lama. Estimasi terkini juga menyebutkan bahwa peningkatan rata-rata 10 dB pada paparan suara pesawat berhubungan dengan meningkatnya tekanan darah, serangan jantung, dan struk antara 7% hingga 17%.

Respon emosional anda terhadap polusi suara juga dapat dianggap signifikan, hingga memiliki nama yang spesifik: gangguan bising (noise annoyance). Ini dikarenakan suara bising dapat menimbulkan perasaan yang negatif, seperti terganggu, iritasi, ketidakpuasan, dan juga perasaan bahwa privasinya telah diganggu. Gangguan ini dapat bervariasi antara satu dengan yang lain. Namun, dampak dari perasaan terganggu ini terhadap kesehatan jangka panjang tidak jelas dan beberapa bukti menyebutkan bahwa sakit mental dapat meningkatkan risiko gangguan.

Efek suara yang lebih sunyi dari segi kesehatan seperti suara berdeham juga kurang jelas, meski suara tersebut jelas dapat mengakibatkan ketidaknyamanan dan rasa terganggu. Tinjauan terkini dari suara frekuensi sangat tinggi juga menyimpulkan bahwa populasi sekarang ini juga jauh lebih banyak terekspos ultrasound dibandingkan masa lalu. Tinjauan ini merekomendasikan bahwa laporan gejala seperti mual, sakit kepala, dan pusing yang berkaitan dengan ultrasound harus diinvestigasi lebih lanjut.

Hasil gambar untuk road traffic noise
Area lain yang juga penting terkait riset kebisingan adalah efeknya terhadap pola belajar anak. Sekitar 20 studi menunjukkan efek dari bising pesawat ataupun jalur lalu lintas terhadap kemampuan membaca dan ingatan jangka panjang anak. 1 studi menunjukkan bahwa bising pesawat diasosiasikan dengan kemampuan membaca dan ingatan yang lebih rendah, dengan memperhitungkan posisi sosial dan bising lalu lintas. Di Britania Raya, umur membaca tertunda hingga 2 bulan untuk peningkatan rata-rata 5 dB pada paparan bising pesawat.
Berdasarkan respon-respon dan bahaya yang dapat ditimbulkan dari paparan kebisingan yang terlalu tinggi tersebut, maka sudah selayaknya kita memperhatikan polusi suara bising di sekitar kita sejak dini.


Implementasi Akustik Bangunan

By | All | No Comments

Implementasi Akustik Bangunan

Akustik Bangunan dapat diimplementasikan pada berbagai fase proses pembangunan, baik fase desain dan perencanaan, pembangunan, maupun setelah bangunan selesai dan membutuhkan penanganan. Untuk mengimplementasikannya, Geonoise memiliki berbagai metode yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda sebagai berikut.

1. Desain dan Pemodelan
Desain dan pemodelan merupakan aktivitas yang dilakukan saat bangunan yang sedang dirancang atau akan diperbaiki. Dengan dilakukannya desain dan pemodelan, dapat diprediksi parameter-parameter akustik bangunan sesuai dengan rancangan yang ada. Jika rancangan bangunan dari arsitek atau desainer interior masih belum memenuhi standar kenyamanan akustik, maka dapat dilakukan optimasi desain dan pemodelan sehingga dihasilkan desain yang memenuhi standar kenyamanan akustik bangunan.

Hasil gambar untuk soundplan room acoustics

Berkaitan dengan Akustik Bangunan, desain dilakukan dengan software SoundPLAN 8.1 (klik disini), modul Room Acoustics. Pada desain ini, dirancang interior sebuah bangunan sesuai dengan desain yang telah dibuat oleh arsitek atau desainer interior. Setelah didesain model interior ruangannya, ditentukan titik sumber suaranya lalu disimulasikan interaksi dari sumber suara terhadap kondisi ruangan dengan memperhitungkan geometri dan permukaan-permukaan pada model ruangan. Simulasi ini akan memberi hasil berupa parameter-parameter akustik bangunan, seperti sebaran tingkat suara, waktu dengung, Indeks Transmisi Bicara (Speech Transmission Index), dan lain sebagainya.

Selain itu, untuk evaluasi interaksi dengan sumber suara dari ruangan lain digunakan software SONarchitect, dan untuk sumber suara dari luar bangunan (bising jalan raya, kereta api, pesawat, dan lain sebagainya) digunakan software SoundPLAN. Dengan kedua software ini, dapat dievaluasi sebaran tingkat suara dari sumber suara ke target ruangan atau bangunan yang hendak ditangani, sehingga selanjutnya dapat ditentukan penanganan yang sesuai.

2. Pengukuran dan Monitoring
Pengukuran dan monitoring dilakukan pada tahap evaluasi sebuah ruangan maupun bangunan. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan instrumentasi-instrumentasi berstandar internasional. Adapun beda pengukuran dengan monitoring yakni pada durasinya. Jika pengukuran dilakukan biasanya hanya beberapa jam hingga satu hari, maka monitoring dilakukan untuk durasi yang lebih panjang, mulai dari seminggu bahkan setahun secara kontinu tanpa henti. Dengan dilakukannya pengukuran dan monitoring, akan didapat data yang akurat dan presisi untuk menentukan penanganan atau solusi seperti apa yang dibutuhkan selanjutnya.

Pengukuran-pengukuran yang relevan dalam Akustik Bangunan antara lain adalah pengukuran insulasi antar ruang in-situ. Dilakukan pengukuran menggunakan Sound Level Meter atau Analyzer (klik disini) dengan sumber suara yang terstandarisasi (klik disini), seperti Dodecahedron Speaker untuk suara yang melalui udara mengacu pada ISO 140-4 atau Tapping Machine untuk suara yang melalui struktur mengacu pada ISO 140-7. Ada pula pengukuran terkait kebisingan dalam gedung, seperti kebisingan sistem HVAC, MEP, peralatan dapur, dan lain sebagainya. Kejelasan suara ucap (STI) juga dapat diukur, parameter ini biasa diperhatikan untuk ruang rapat, perkantoran, ruang belajar, dan sebagainya.

Selain kebisingan suara, kebisingan akibat vibrasi juga biasa terjadi di dalam gedung, biasa disebabkan oleh peralatan yang besar, seperti mesin AC, boiler, dan generator. Oleh karena itu, dilakukan pengukuran vibrasi menggunakan Vibration Analyzer (klik disini) untuk menentukan penanganan vibrasi yang tepat pada bangunan.

Kebisingan juga dapat diukur secara kontinu dengan sistem monitoring, seperti Noise Monitoring Terminal dari Norsonic (klik disini) yang dapat digunakan secara kontinu untuk mengukur kebisingan di luar bangunan, seperti di area bandara, bangunan dekat rel kereta api, dan sebagainya.

3. Konsultasi
Konsultasi merupakan aktivitas yang dapat dilakukan di tahap manapun, baik tahap awal perancangan saat membahas potensi sumber kebisingan, tahap pasca desain dan pemodelan, maupun tahap pengukuran dan monitoring. Dengan dilakukannya konsultasi, klien akan memiliki wawasan lebih dan saran yang terbaik dari konsultan akustik yang berpengalaman di bidang akustik bangunan, sehingga klien tahu langkah-langkah terbaik untuk dilakukan.

Jika tertarik dengan jasa kami, silahkan kontak kami.

Pengenalan Akustik Bangunan

By | All, Articles | No Comments

Pengenalan Akustik Bangunan

Bangunan merupakan tempat beraktivitasnya banyak manusia. Di tempat ini, kita melakukan berbagai aktivitas, baik itu belajar, bekerja, maupun sekedar bersantai. Dengan banyaknya jenis serta variasi durasi berkegiatan, maka sangat dibutuhkan kenyamanan, agar kegiatan yang kita lakukan menghasilkan output yang sesuai dengan harapan. Dapat dibayangkan output belajar atau bekerja kita saat lingkungan sekitar kita tidak nyaman, maka hasil belajar pun menjadi tidak maksimal.

Salah satu faktor penentu kenyamanan adalah kenyamanan pendengaran. Kenyamanan pendengaran merupakan salah satu faktor yang krusial agar suatu informasi dapat diterima dengan baik, juga agar otak dapat bekerja secara maksimal. Jika diabaikan, maka gangguan dari kebisingan dalam memberi efek buruk pada kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup secara umum. Dalam pemenuhan hal ini, maka pemahaman terkait akustik suatu bangunan sangat diperlukan agar rancangan desain sebuah bangunan dapat mengakomodasi kebutuhan kita akan kenyamanan pendengaran.

Akustik bangunan merupakan sebuah ilmu pengendalian suara atau kebisingan pada bangunan, termasuk juga minimalisasi bising yang ditransmisi dari satu ruang ke ruangan lainnya serta pengendalian karakteristik suara dalam ruangan. Pemahaman akan hal ini sangat penting, terutama pada bangunan-bangunan tertentu seperti misal concert hall, studio rekaman, ruang kelas, dan sebagainya, yang memiliki kebutuhan akan kualitas serta kejelasan suara yang baik.

Hasil gambar untuk building acoustics

Ilustrasi interaksi suara dalam ruangan

Akustik sebuah bangunan dapat dipengaruhi oleh:

  • Geometri dan volume ruang
  • Karakteristik absorpsi, transmisi, dan pantulan suara dari permukaan yang menyelubungi atau berada di dalam ruangan
  • Karakteristik absorpsi, transmisi, dan pantulan suara dari material antar ruang
  • Suara yang ada di dalam atau di luar ruangan
  • Transmisi suara melalui udara (airborne sound)
  • Kebisingan akibat tumbukan (impact noise)

Terdapat setidaknya 3 parameter yang perlu diperhatikan dalam desain atau evaluasi Akustik Bangunan, yakni Waktu Dengung, Absorpsi Suara, dan Insulasi Suara.

Waktu Dengung
Waktu dengung sebuah ruangan dapat mengubah persepsi suara dari sumbernya dan dapat memberi efek pada kejelasan informasi akustik. Waktu dengung tinggi dapat menyebabkan suara lebih sayu, keras, dan berisik. Ruangan yang didesain untuk aktivitas bicara biasanya memiliki waktu dengung yang rendah, sedangkan waktu dengung yang lebih tinggi dapat memberi kesan lebih pada musik.

Lihat laman Waktu Dengung untuk info lebih lanjut.

Hasil gambar untuk sound absorption

Absorpsi Suara
Absorpsi suara merupakan fenomena hilangnya energi suara saat gelombang suara berinteraksi dengan material absorptif, seperti plafon, dinding, lantai, dan objek lainnya, sehingga suara tidak dipantulkan kembali. Absorpsi akustik dapat dimanfaatkan untuk mengurangi waktu dengung.

Lihat laman Absorpsi Suara untuk info lebih lanjut.

Hasil gambar untuk building acoustics

Bermacam jenis suara yang umum pada bangunan

Insulasi Suara
Transmisi suara dapat dicegah atau diminimalisasi dengan insulasi suara dan memblokir jalur udara. Insulasi suara dari material berbahan tunggal dipengaruhi massa, stiffness, dan redaman. Insulasi suara dari konstruksi kantor yang baik biasanya pada orde 45 dB Dw. Hal ini berarti jika tingkat suara pada ruangan sumber adalah 65 dB (tingkat suara saat bicara), maka tingkat suara pada ruang di sebelahnya, yakni ruang penerima, yakni sekitar 20 dB (nyaris tak terdengar).

Lihat laman Insulasi Suara untuk info lebih lanjut.