Category

Articles

Geonoise Indonesia di Workshop Akustik AAVI (Asosiasi Akustik dan Vibrasi Indonesia) – Prediksi Kebisingan di Perkotaan

By | Articles, News

Asosiasi Akustik dan Vibrasi Indonesia (AAVI) pada tanggal 5 dan 6 Agustus 2019 mengadakan workshop yang bertajuk “Workshop on Acoustics Technology for Industry and Professionals”. Workshop ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai teknologi akustik terkini untuk para praktisi di industri dan juga professional yang bekerja pada bidang yang berkaitan dengan akustik.

Pada acara ini, Geonoise Indonesia berkesempatan untuk memberikan kontribusi dengan menjadi pembicara pada acara tersebut. Salah satu engineer Geonoise Indonesia, Hizkia Natanael, mengisi sebuah sesi yang diberi judul “Urban Noise Predictions: Why and How We Do It”. Kesempatan ini kami gunakan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kami mengenai kalkulasi kebisingan di perkotaan, terutama dari sudut pandang praktisi.

Hal yang pertama dibahas yakni mengenai mengapa kebisingan di perkotaan perlu untuk diprediksi. Sedikitnya terdapat dua alasan yang berhubungan dengan hal ini. Pertama, kebisingan memiliki dampak yang buruk pada kesehatan dan kesejahteraan publik. Karena hal inilah, kebisingan perlu diperhitungkan pada tahap perencanaan sebuah kegiatan ataupun proyek, sehingga kebisingan dapat berada pada tingkat yang dapat diterima oleh publik. Oleh karena hal inilah, terdapat alasan kedua yaitu agar memenuhi persyaratan yang ditentukan regulasi. Regulasi terkait kebisingan dibuat agar kebisingan yang diterima publik memiliki dampak yang masih terkontrol.

Regulasi terkait kebisingan dapat digolongkan menjadi dua yaitu immission dan emission. Regulasi yang digolongkan sebagai immission adalah regulasi yang mengatur seberapa banyak kebisingan boleh diterima oleh penerima bising. Di Indonesia, salah satu contoh dari regulasi ini adalah KepMen LH No. 48 Tahun 1996 tentang baku mutu kebisingan. Pada keputusan ini, tingkat kebisingan diatur baku mutunya untuk setiap jenis kawasan. Misalnya, pada kawasan pemukiman, kebisingan maksimal adalah Lsm < 55 dBA dengan toleransi 3 dB (tingkat kebisingan siang malam, dengan penalti 5dB pada malam hari).

Kategori lainnya yaitu regulasi terkait emisi kebisingan adalah regulasi yang mengatur seberapa banyak kebisingan boleh diemisikan oleh sumber kebisingan. Contoh dari regulasi ini di Indonesia adalah PerMen LH No.7 tahun 2009 tentang ambang batas kebisingan kendaraan bermotor tipe baru. Pada peraturan ini, setiap kendaraan motor tipe baru harus diuji emisi kebisingannya dengan metoda yang diatur pada PerMen yang sama.

Pada bagian kedua dari sesi ini, kami berbagi mengenai metoda yang biasa digunakan oleh praktisi untuk memprediksi kebisingan di perkotaan. Standar kalkulasi kebisingan yang biasa digunakan terbagi menjadi dua yaitu emisi dan propagasi. Pada kalkulasi emisi, tingkat daya suara dari sumber kebisingan dihitung berdasarkan karakteristik sumber bunyi tersebut. Misalkan untuk menghitung emisi bising dari jalan raya, dibutuhkan data mengenai jumlah kendaraan, kecepatan kendaraan, jenis kendaraan yang melewati jalan tersebut dan sebagainya. Pada standar perhitungan propagasi, dihitung kebisingan yang diterima oleh penerima kebisingan karena propagasi suara dari sumber.

Pada kesempatan ini juga kami membuat sebuah “study case” jika akan dibangun rel kereta layang pada jalan Dago di Bandung. Kami menggunakan software SoundPLAN 8.1 untuk memprediksi kebisingan yang diterima oleh salah satu rumah sakit pada jalan tersebut.

Selain dari Geonoise Indonesia, pembicara pada acara ini adalah:

  • Prof Jeong-Guon Ih dari Korea Advanced Institute of Science and Technology. Prof Ih pada kesempatan kali ini berbicara mengenai beberapa topik terkait noise control yaitu “Noise Control Design and Analysis”, “Panel damping to reduce noise radiation” dan case study noise control pada produk hair dryer yang beliau kerjakan.
  • Prof David Herrin, Director dari The Vibro-Acoustics Consortium yang juga professor di University of Kentucky. Prof Herrin menjadi pembicara pada sesi “Basics of sound and noise”, “Design of silencers to reduce duct-borne noise”, dan “measurements and instrumentation in Acoustics and Vibration”
  • Prof Youngjin Park, Director dari Center for Noise and Vibration Control (NOVIC), KAIST. Prof Park membagikan mengenai active noise control.
  • Prof Benjamin Soenarko, President dari Asosiasi Akustik dan Vibrasi Indonesia (AAVI). Beliau berbicara mengenai metoda numerik di akustik, terutama Boundary Element Method.
  • Dr Joko Sarwono, Kelompok Keahlian Fisika Bangunan Institut Teknologi Bandung. Pak Joko Sarwono pada kesempatan ini berbagi mengenai Soundscape.
Penghargaan dari AAVI 2019

Kebisingan Pada Sistem HVAC

By | Articles

Salah satu hal yang menjadi masalah tak terduga suatu bangunan berkaitan dengan sistem HVAC adalah kebisingan yang ditimbulkannya. Penghitungan kebisingan hasil dari akumulasi bagian-bagian dari sistem HVAC sangat diperlukan, agar tidak terjadi kebisingan di ruangan-ruangan yang diinginkan.

Apa yang perlu diperhatikan dalam mendesain sistem HVAC?

Apakah ada langkah singkat untuk menghindarinya?

Dalam artikel ini akan dibahas secara singkat terkait kebisingan yang terjadi pada system HVAC  dan bagaimana menghindarinya. 

Setiap suara yang terdengar biasanya dapat diidentifikasi melalui range frekuensi kebisingannya, begitupun dengan kebisingan yang berasal dari sistem HVAC. Kebisingan yang berkaitan dengan sistem HVAC dibagi menjadi 3 cakupan frekuensi, yaitu:

  • Frekuensi rendah

Kebisingan dari Fan, secara umum cakupannya adalah pada frekuensi 16 Hz hingga 250 Hz;

Variable Air Volume (VAV) Box Noise pada range frekuensi 125 Hz hingga 500 Hz.

  • Frekuensi menengah

Airflow ataupun kebisingan hasil turbulensi yang terjadi pada duct berkisar pada range frekuensi 31.5 Hz – 1000 Hz.

  • Frekuensi tinggi

Kebisingan Damper dan diffuser yang memberikan kebisingan pada range frekuensi 1000 Hz – 4000 Hz.

Ketiga kategori yang telah dijelaskan di atas dapat dihindari dengan mengetahui dari mana saja kebisingan tersebut berasal sehingga dapat menjadi perhatian lebih ketika mendesain saluran duct, seperti bentuk duct dan material yang dipakai pada setiap komponen sistem HVAC. Banyak cara agar suara dari sumber tertentu menjalar ke suatu area atau tempat, namun secara garis besar kebisingan pada sistem HVAC menjalar melalui 5 hal, diantaranya:

Sistem HVAC Acoustic – GeoNoise Indonesia
  • Ductborne Noise

Ductborne Noise berasal dari suara fan yang menjalar di sepanjang duct baik upstream maupun downstream terhadap arah arus fan. Penjalaran terjadi dengan mudah dan cepat karena kecepatan suara lebih cepat dari kecepatan udara dalam duct itu sendiri. Noise menjalar melalui saluran duct dan memberi kebisingan pada ruangan penerima, baik lokasi supply maupun return air.

  • Radiated Equipment Noise

Radiated equipment noise atau kebisingan yang berasal dari radiasi peralatan bising HVAC terjadi melewati lantai, atap ataupun dinding. Hal ini menjadikan suara bising terdengar pada ruangan sekitarnya. Contohnya, ketika pemasangan unit HVAC berada di samping ruang kerja, dengan sistem insulasi suara dinding pemisah yang kurang baik, maka suara unit HVAC akan menembus dinding dan terdengar di ruang kerja maupun di ruang sekitar unit HVAC.

  • Duct Break-in Noise

Kebisingan yang bersumber dari Ceiling Plenums atau dari perangkat Air Conditioning, ruang pemasangan dan sumber bising lainnya, akan menembus saluran duct dan kemudian menjalar menuju ruangan bersamaan dengan arus pada saluran duct. Jadi jika dimungkinkan, hindari duct melalui area bising sehingga tidak ada kebisingan yang masuk ke dalam system duct, atau jika ditinjau dari duct, hindari penggunaan material duct ringan dengan kemampuan insulasi yang rendah jika melewati ruangan-ruangan yang bising.

  • Duct Break-out Noise

Kebisingan juga dapat keluar dari dalam saluran duct lewat perimeter duct itu sendiri, hal ini akan memberikan kebisingan pada ruangan atau area sekitar duct tersebut. Umumnya hal ini terjadi dari suara bising fan, kebisingan aerodinamis (regenerated noise) di dalam duct, dan turbulensi airflow yang menyebabkan duct bergetar dan menghasilkan suara gaduh yang meradiasikan frekuensi rendah airborne noise.

  • Terminal Noise

Bagian akhir dari rantai distribusi udara pada system HVAC adalah perangkat terminal air yang diantaranya mencakup grille, diffuser, register, dan vent cover yang terbuka langsung terhadap ruang penerima. Kebisingan yang melewati diffuser dan perangkat transisi ini akan bertambah pada ruang penerima jika terdapat kemungkinan bergetar ataupun pertemuan dua arah arus udara yang berbeda. Untuk permasalahan ini yang dibutuhkan adalah penggunaan peralatan dengan spesifikasi yang baik untuk perangkat pada supply dan juga return serta desain pembelokan duct yang kurang baik. Untuk memudahkan biasanya beberapa manufaktur memberikan kode rating NC (Noise Criteria) pada perangkatnya, pilihlah sesuai dengan kebutuhan NC ruangan.

Dengan mengetahui kelima cara kebisingan tercipta, kita dapat dengan mudah mengkategorikan kebisingan pada system HVAC yang akan kita buat. Hal ini akan membantu menuntun kita dalam hal pemilihan material duct, sistem percabangan duct, enclosure unit Air Conditioning, tipe duct dan lain sebagainya sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan bising yang akan terjadi.

Kebisingan Lingkungan Kerja

By | All, Articles | No Comments

Kebisingan Lingkungan Kerja

Gangguan pendengaran akibat bising adalah kondisi kesehatan kerja yang paling umum dicegah di dunia.

Kebisingan didefinisikan sebagai ‘suara yang tak diinginkan’. Saat seseorang mendengar suara, bisa jadi suara tersebut merupakan kebisingan bagi orang lain, namun siapapun yang terpapar bising sangat berpotensi berisiko. Semakin tinggi tingkat kebisingan, dan semakin lama seseorang terpapar, maka risiko menderita sakitnya semakin tinggi pula.

Jutaan pekerja di dunia terpapar tingkat kebisingan yang sangat berisiko terhadap pendengaran mereka. Kebisingan berlebih adalah bahaya lingkungan kerja dengan banyak efek yang merugikan, tak hanya pekerja yang terlibat dalam operasi yang bising, namun juga orang-orang sekitarnya. Efeknya dapat membuat kerusakan pendengaran sementara atau permanen dan dapat menurunkan efisiensi pekerja. Seseorang yang menderita dari pendengaran yang buruk, baik itu karena umur atau penyakit, dapat membuat masalah mereka semakin parah karena paparan tinggi dari bising di lingkungan kerja. Hal ini dapat pula menimbulkan kecelakaan karena keterbatasan komunikasi berbicara, kesalahpahaman instruksi lisan, dan menutupi suara peringatan bahaya.

Sumber Utama Kebisingan Lingkungan Kerja

Hasil gambar untuk noise at work

Kebisingan adalah bahaya yang umum dan ada hingga batas tertentu di hampir semua tempat kerja. Hal ini merupakan bahaya kesehatan paling umum dalam industri hiburan, manufaktur, agrikultur, tekstil, pertambangan dan penggalian, makanan dan minuman, kayu, metal, dan konstruksi.

Beberapa sumber bising umum yakni:

  • musik yang keras
  • penggunaan alat-alat berat
  • transportasi tempat kerja
  • peralatan listrik seperti gergaji dan cutter
  • lini produksi
  • peralatan pneumatik seperti bor, gerinda, dan pistol rivet
  • motor dan generator listrik
  • proses fabrikasi bahan
  • ruang pabrik dengan peralatan ventilasi yang bekerja kontinu

Tingkat Kebisingan yang Berbahaya

Sangat sulit menentukan berapa tingkat bising yang benar-benar aman, karena tiap individu dapat berbeda pengaruhnya terhadap kebisingan. Namun, tingkat kebisingan di atas 75-80 dB(A) diketahui dapat menyebabkan kerusakan pendengaran. Semakin keras bisingnya, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk menyebabkan kerusakan. Misal, tingkat bising pada 85 dB(A) butuh waktu 8 jam untuk menyebabkan kerusakan pendengaran, sedangkan bising 100 dB(A) mulai merusak sel rambut pada telinga setelah hanya 30 menit.

Equivalent noise level exposures table

Untuk membuktikan apakah tingkat kebisingan berbahaya ada di lingkungan kerja, harus dipastikan apakah percakapan normal pada jarak 1 meter dapat dilakukan. Jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi, maka sangat mungkin penyebabnya adalah tingkat bising yang tinggi.

Tabel berikut menunjukkan rekomendasi batas tingkat kebisingan dari World Health Organization untuk berbagai pekerjaan:

World Health Organization's recommended noise levels in various occupations

Tanda Umum dari Hilangnya Pendengaran

Sangat penting untuk mengetahui masalah hilangnya pendengaran sedini mungkin, karena tanda-tanda awal dapat membantu mengidentifikasi masalah dengan cepat. Tanda awal kehilangan pendengaran dapat berupa:

  • Telinga berdering
  • Tidak bisa mendengar suara lembut dan bernada tinggi
  • Suara bicara dan suara lain teredam
  • Sulit memahami percakapan berjarak atau dalam keramaian
  • Mendengar musik atau menonton televisi dengan volume yang lebih tinggi dari orang lain
  • Sulit mendengar telepon atau bel
  • Sulit menentukan dari arah mana suara bising berasal
  • Biasa merasa capek atau stres karena harus konsentrasi saat mendengar
  • Menjawab atau merespon percakapan dengan tidak sesuai
  • Membaca bibir atau mengamati wajah saat bercakap
  • Merasa terganggu terhadap orang lain karena tidak mengerti mereka
  • Merasa gugup saat mencoba mendengar dan mengerti orang lain

Riset menyebutkan bahwa butuh 10 tahun sejak seseorang tahu dia mengalami kehilangan pendengaran sebelum melakukan sesuatu.

Sumber: IOSH

Beragam Bahaya Polusi Suara

By | All, Articles | No Comments

Beragam Bahaya Polusi Suara

Hasil gambar untuk AIRCRAFT NOISE

Sekarang ini, hampir mustahil kita dapat menemukan tempat yang benar-benar sunyi dan menenangkan. Kalaupun anda dapat hidup di pelosok yang jauh dari rute pesawat, lalu lintas, dan pekerjaan bangunan, rumah anda kemungkinan besar tetap dipenuhi oleh suara komputer dan peralatan modern lainnya. Anda mungkin bahkan dapat tetap mendengar suara berdeham yang tidak diketahui pasti asal suaranya.

Suara tersebut tidak hanya menggangu. Tren menunjukkan bukti yang semakin konkret bahwa bising lingkungan jangka panjang di atas tingkat tertentu dapat memberi dampak negatif pada kesehatan. Efek ini dapat berupa fisik, mental, dan bahkan mengganggu proses belajar anak.

Riset terkini menunjukkan bahwa lalu lintas jalan raya dan bandara memiliki kebisingan yang dapat meningkatkan resiko tekanan darah tinggi, terutama paparan bising di malam hari. Sebuah studi terkait bising pesawat di bandara Heathrow, London, menemukan bahwa tingkat suara yang tinggi dari bising pesawat memiliki hubungan dengan resiko masuk ke rumah sakit bahkan kematian yang meningkat, disebabkan oleh penyakit seperti struk, penyakit jantung koroner, dan kardiovaskular.

Studi besar lainnya yang memperhatikan paparan suara pesawat pada periode waktu yang cukup lama, yakni 15 tahun, menunjukkan bahwa kematian karena serangan jantung meningkat saat bising lebih tinggi dan berdurasi lebih lama. Estimasi terkini juga menyebutkan bahwa peningkatan rata-rata 10 dB pada paparan suara pesawat berhubungan dengan meningkatnya tekanan darah, serangan jantung, dan struk antara 7% hingga 17%.

Respon emosional anda terhadap polusi suara juga dapat dianggap signifikan, hingga memiliki nama yang spesifik: gangguan bising (noise annoyance). Ini dikarenakan suara bising dapat menimbulkan perasaan yang negatif, seperti terganggu, iritasi, ketidakpuasan, dan juga perasaan bahwa privasinya telah diganggu. Gangguan ini dapat bervariasi antara satu dengan yang lain. Namun, dampak dari perasaan terganggu ini terhadap kesehatan jangka panjang tidak jelas dan beberapa bukti menyebutkan bahwa sakit mental dapat meningkatkan risiko gangguan.

Efek suara yang lebih sunyi dari segi kesehatan seperti suara berdeham juga kurang jelas, meski suara tersebut jelas dapat mengakibatkan ketidaknyamanan dan rasa terganggu. Tinjauan terkini dari suara frekuensi sangat tinggi juga menyimpulkan bahwa populasi sekarang ini juga jauh lebih banyak terekspos ultrasound dibandingkan masa lalu. Tinjauan ini merekomendasikan bahwa laporan gejala seperti mual, sakit kepala, dan pusing yang berkaitan dengan ultrasound harus diinvestigasi lebih lanjut.

Hasil gambar untuk road traffic noise
Area lain yang juga penting terkait riset kebisingan adalah efeknya terhadap pola belajar anak. Sekitar 20 studi menunjukkan efek dari bising pesawat ataupun jalur lalu lintas terhadap kemampuan membaca dan ingatan jangka panjang anak. 1 studi menunjukkan bahwa bising pesawat diasosiasikan dengan kemampuan membaca dan ingatan yang lebih rendah, dengan memperhitungkan posisi sosial dan bising lalu lintas. Di Britania Raya, umur membaca tertunda hingga 2 bulan untuk peningkatan rata-rata 5 dB pada paparan bising pesawat.
Berdasarkan respon-respon dan bahaya yang dapat ditimbulkan dari paparan kebisingan yang terlalu tinggi tersebut, maka sudah selayaknya kita memperhatikan polusi suara bising di sekitar kita sejak dini.

Sumber: INDEPENDENT

Pengenalan Akustik Bangunan

By | All, Articles | No Comments

Pengenalan Akustik Bangunan

Bangunan merupakan tempat beraktivitasnya banyak manusia. Di tempat ini, kita melakukan berbagai aktivitas, baik itu belajar, bekerja, maupun sekedar bersantai. Dengan banyaknya jenis serta variasi durasi berkegiatan, maka sangat dibutuhkan kenyamanan, agar kegiatan yang kita lakukan menghasilkan output yang sesuai dengan harapan. Dapat dibayangkan output belajar atau bekerja kita saat lingkungan sekitar kita tidak nyaman, maka hasil belajar pun menjadi tidak maksimal.

Salah satu faktor penentu kenyamanan adalah kenyamanan pendengaran. Kenyamanan pendengaran merupakan salah satu faktor yang krusial agar suatu informasi dapat diterima dengan baik, juga agar otak dapat bekerja secara maksimal. Jika diabaikan, maka gangguan dari kebisingan dalam memberi efek buruk pada kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup secara umum. Dalam pemenuhan hal ini, maka pemahaman terkait akustik suatu bangunan sangat diperlukan agar rancangan desain sebuah bangunan dapat mengakomodasi kebutuhan kita akan kenyamanan pendengaran.

Akustik bangunan merupakan sebuah ilmu pengendalian suara atau kebisingan pada bangunan, termasuk juga minimalisasi bising yang ditransmisi dari satu ruang ke ruangan lainnya serta pengendalian karakteristik suara dalam ruangan. Pemahaman akan hal ini sangat penting, terutama pada bangunan-bangunan tertentu seperti misal concert hall, studio rekaman, ruang kelas, dan sebagainya, yang memiliki kebutuhan akan kualitas serta kejelasan suara yang baik.

Hasil gambar untuk building acoustics

Ilustrasi interaksi suara dalam ruangan

Akustik sebuah bangunan dapat dipengaruhi oleh:

  • Geometri dan volume ruang
  • Karakteristik absorpsi, transmisi, dan pantulan suara dari permukaan yang menyelubungi atau berada di dalam ruangan
  • Karakteristik absorpsi, transmisi, dan pantulan suara dari material antar ruang
  • Suara yang ada di dalam atau di luar ruangan
  • Transmisi suara melalui udara (airborne sound)
  • Kebisingan akibat tumbukan (impact noise)

Terdapat setidaknya 3 parameter yang perlu diperhatikan dalam desain atau evaluasi Akustik Bangunan, yakni Waktu Dengung, Absorpsi Suara, dan Insulasi Suara.

Waktu Dengung
Waktu dengung sebuah ruangan dapat mengubah persepsi suara dari sumbernya dan dapat memberi efek pada kejelasan informasi akustik. Waktu dengung tinggi dapat menyebabkan suara lebih sayu, keras, dan berisik. Ruangan yang didesain untuk aktivitas bicara biasanya memiliki waktu dengung yang rendah, sedangkan waktu dengung yang lebih tinggi dapat memberi kesan lebih pada musik.

Lihat laman Waktu Dengung untuk info lebih lanjut.

Hasil gambar untuk sound absorption

Absorpsi Suara
Absorpsi suara merupakan fenomena hilangnya energi suara saat gelombang suara berinteraksi dengan material absorptif, seperti plafon, dinding, lantai, dan objek lainnya, sehingga suara tidak dipantulkan kembali. Absorpsi akustik dapat dimanfaatkan untuk mengurangi waktu dengung.

Lihat laman Absorpsi Suara untuk info lebih lanjut.

Hasil gambar untuk building acoustics

Bermacam jenis suara yang umum pada bangunan

Insulasi Suara
Transmisi suara dapat dicegah atau diminimalisasi dengan insulasi suara dan memblokir jalur udara. Insulasi suara dari material berbahan tunggal dipengaruhi massa, stiffness, dan redaman. Insulasi suara dari konstruksi kantor yang baik biasanya pada orde 45 dB Dw. Hal ini berarti jika tingkat suara pada ruangan sumber adalah 65 dB (tingkat suara saat bicara), maka tingkat suara pada ruang di sebelahnya, yakni ruang penerima, yakni sekitar 20 dB (nyaris tak terdengar).

Lihat laman Insulasi Suara untuk info lebih lanjut.