Category

Articles

Harmonisasi Suara: Menyingkap Peran Desain Akustik dalam Arsitektur Tradisional Asia Tenggara

Harmonisasi Suara: Menyingkap Peran Desain Akustik dalam Arsitektur Tradisional Asia Tenggara

By | All, Articles, Uncategorized

Di jantung Asia Tenggara, arsitektur kawasan ini tidak hanya mencerminkan kekayaan warisan budaya, tetapi juga pemahaman mendalam tentang lingkungan. Arsitektur tradisional Asia Tenggara telah lama dipuji karena perpaduan bentuk, fungsi, dan elemen alam. Salah satu aspek yang sering diabaikan dari arsitektur ini adalah pertimbangan mendalam terhadap desain akustik. Dari halaman yang luas hingga kuil dengan desain rumit, peran desain akustik sangat mempengaruhi pengalaman sensori dan makna budaya dari keajaiban arsitektur ini.

Kebijaksanaan Leluhur Diwujudkan dalam Desain

Arsitektur tradisional Asia Tenggara mengintegrasikan desain akustik yang menghadirkan perpaduan harmonis antara suara dan ruang. Para arsitek berabad-abad yang lalu secara cerdik menyadari pengaruh kuat suara pada pengalaman manusia. Dari nyanyian berirama di kuil Buddha hingga resonansi musik gamelan yang semarak, ruang arsitektur ini dirancang untuk memperkuat atau mengecilkan suara dengan sengaja. Beresonansi dengan kebijaksanaan leluhur, desain akustik bangunan ini berfungsi sebagai bukti pemahaman mendalam tentang hubungan timbal balik antara suara dan arsitektur.

Spiritualitas dan Lanskap Suara

Banyak keajaiban arsitektur tradisional Asia Tenggara dibangun dengan tujuan memfasilitasi praktik dan ritual spiritual. Ambil contoh, Candi Borobudur di Indonesia. Situs Warisan Dunia UNESCO ini memiliki kualitas akustik yang luar biasa. Jalinan rumit stupa dan teras menciptakan lanskap suara yang menggaungkan nyanyian dan himne, meningkatkan pengalaman spiritual bagi para peziarah. Prinsip akustik serupa diamati dalam desain wat (kuil) Thailand dan pagoda di Myanmar, di mana resonansi nyanyian dan lonceng upacara dipertimbangkan dengan cermat.

Keterlibatan Masyarakat dan Ruang Sosial

Dalam arsitektur tradisional Asia Tenggara, desain akustik terkait erat dengan kehidupan masyarakat. Desain ruang komunal, seperti alun-alun dan pasar, melibatkan pertimbangan cermat tentang bagaimana suara akan menyebar di area ini. Penempatan bangunan, desain terbuka, dan penggunaan bahan alami semuanya berkontribusi dalam membentuk lingkungan akustik. Di desa-desa Bali, misalnya, tata letak kompleks perumahan, yang dikenal sebagai banjar, diatur untuk menciptakan penyangga akustik yang menangkap dan menyebarkan suara, memfasilitasi pertemuan masyarakat dan pertunjukan musik tradisional.

Elemen Alam sebagai Alat Akustik

Salah satu ciri khas arsitektur tradisional Asia Tenggara adalah integrasi mulus elemen alam, yang meluas ke ranah desain akustik. Penggunaan fitur air, seperti air mancur dan kolam, sengaja dimasukkan untuk memodulasi suara dan menciptakan rasa ketenangan. Halaman dan paviliun terbuka diposisikan secara strategis untuk memanfaatkan gemerisik daun yang lembut dan suara air mengalir yang menenangkan. Elemen alam ini tidak hanya meningkatkan suasana akustik tetapi juga berfungsi sebagai penghubung untuk menumbuhkan hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Pengaruh Modern dan Upaya Pelestarian

Seiring urbanisasi dan modernisasi terus membentuk lanskap Asia Tenggara, praktik arsitektur tradisional menghadapi tekanan perubahan. Namun, ada gerakan yang berkembang untuk melestarikan dan mengadaptasi prinsip desain akustik tradisional dalam struktur kontemporer. Arsitek dan konservasionis semakin menyadari makna budaya dan sensori dari desain akustik tradisional, dan upaya sedang dilakukan untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip ini ke dalam proyek arsitektur modern.

Kesimpulannya, peran desain akustik dalam arsitektur tradisional Asia Tenggara melampaui sekadar estetika. Ini adalah bukti pemahaman mendalam tentang hubungan timbal balik antara suara, ruang, dan budaya. Dari tempat perlindungan spiritual hingga ruang komunal, arsitektur kawasan ini beresonansi dengan kebijaksanaan masa lalu, menyatukan harmoni suara yang memperkaya pengalaman manusia.

Artikel ini menyoroti persimpangan arsitektur dan suara yang sering diabaikan, memberikan apresiasi yang lebih dalam terhadap pentingnya desain akustik dalam arsitektur tradisional Asia Tenggara.

Parameter akustik dalam mendesain sistem public address

Parameter akustik dalam mendesain sistem public address

By | All, Articles, News, Uncategorized

Apabila berbicara tentang electro-acoustic, sistem public address (PA) atau biasa juga disebut dengan public announcer adalah hal yang umum dibicarakan dalam forum ataupun seminar di bidang akustik. Sistem PA adalah sistem audio di dalam proyek komersial seperti pusat pembelanjaan, bandar udaram stasiun kereta biasa difungsikan untuk pemberitahuan informasi (Public Announcement). Di bidang lain seperti industiru gas dan minyak sistem PA juga difungsikan sebagai sistem PAGA (Public Alert and General Alarm) saat keadaan darurat seperti kebakaran atau hal lainnya.

 

Oleh sebab itu kejelasan suara dari sistem PA adalah hal yang penting bahkan bisa dikatakan krusial karena fungsi dari sistem tersebut terkait dengan keselamatan manusia di area instalasi sistem tersebut. Bahkan di dalam ilmu akustik sistem PA mempunyai parameter akustik dan standarisasi tersendiri.

 

Parameter akustik yang biasa digunakan dalam mendesain dan mengukur kejelasan suara sistem PA adalah STIPA (Speech transmission index for public address). Beberapa standar internasional dan nasional yang mengatur bagaimana cara mengukur dan mendefinisikan STIPA dapat ditemukan dibeberapa dokumen sebagai berikut:

Sebagai rangkuman dari beberapa dokumen tersebut, parameter akustik STIPA adalah nilai objektif dan terukur dari kejelasan suara sistem PA, sehingga penilaian dari performa instalasi sistem PA di sebuah bangunan tidak dinilai secara subjektif lagi seperti “jelas” atau “tidak jelas” tetapi dengan angka 0 sampai dengan 1.


Nilai 0 sampai dengan 1 diekspresikan sesuai tabel dibawah:

Kualifikasi skala nilai STIPA dan beberapa contoh area tipikal fungsi ruangan dengan nilai tersebut dapat dilihat seperti tabel di bawah.

Bisa disimpulkan STIPA sebagai tolak ukur dalam menilai sistem PA merupakan parameter yang sudah sangat Established dan umum digunakan dibeberapa negara dan bidang konstruksi. Parameter apa saja yang mempengaruhi nilai STIPA? Apakah semakin tinggi level suara dari sistem PA akan semakin tinggi juga nilai STIPA? Hal tersebut akan kami bahas lebih detail di artikel selanjutnya.

Propagasi suara di luar ruangan – hubungan antara daya suara, intensitas suara dan tekanan suara

Propagasi suara di luar ruangan – hubungan antara daya suara, intensitas suara dan tekanan suara

By | All, Articles, blog, News, Uncategorized

Tulisan ini akan membahas propagasi suara di luar ruangan, terutama hubungan antara daya suara, intensitas suara dan tekanan suara di luar ruangan. Kondisi luar ruangan yang dimaksud adalah kondisi hemi freefield dimana sumber suara titik berada diatas tanah dan tidak ada pantulan suara dari sumber ke penerima.

Sebelum kita membahas mengenai propagasi, mari kita definisikan terlebih dahulu beberapa terminologi yang akan kita perlukan sebagai berikut:

Daya Suara

Daya suara adalah energi suara per satuan waktu yang dikeluarkan oleh sumber suara. Satuan daya suara yang biasa digunakan adalah watt (Joule per detik). Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari pada bidang enjiniring, daya suara lebih sering dinyatakan dengan tingkat daya suara (disimbolkan SWL atau Lw). Tingkat daya suara dapat dinyatakan sebagai berikut:

Karena daya suara hanya mendeskripsikan sumber, tanpa mendeskripsikan lokasi penerima dan kondisi lingkungan sekitar sumber suara, tingkat daya suara menjadi besaran yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan sumber suara.

Intensitas suara

Intensitas suara didefinisikan sebagai daya suara dibagi dengan luasan yang dilingkupi oleh daya suara tersebut. Intensitas suara dapat juga dinyatakan secara logaritmik yaitu dengan tingkat intensitas suara (disimbolah SIL atau Li).

Hal ini menyebabkan besarnya intensitas suara bergantung pada jarak antara sumber dan penerima, karena semakin jauh penerima dari sumber, maka area yang harus dilingkupi oleh daya suara tersebut semakin luas. Hal ini dapat dianalogikan seperti sebuah senter yang diarahkan ke sebuah dinding. Semakin dekat senter ke dinding, maka iluminansi cahaya pada dinding yang terkena cahaya senter semakin tinggi (semakin terang), tetapi areanya semakin kecil, dan semakin jauh senter ke dinding, iluminansi cahaya pada dinding semakin rendah (semakin redup) karena area yang harus dicover oleh cahaya yang dikeluarkan oleh senter semakin besar.

Pada kondisi free-field, maka area yang dicover oleh sumber suara titik berbentuk bola sehingga hubungan antara intensitas dan daya suara adalah sebagai berikut:

Dimana r adalah jarak dari sumber ke penerima.

Pada propagasi di luar ruangan, suara berpropagasi dengan bentuk setengah bola karena sumber suara berada diatas tanah. Oleh karena itu, hubungan intensitas suara dengan daya suara menjadi seperti berikut:

Tekanan Suara

Adanya rambatan suara pada medium menyebabkan adanya fluktuasi tekanan yang biasa disebut dengan tekanan suara atau tekanan akustik. Nilai efektif (RMS) dari fluktuasi tekanan ini dapat dinyatakan secara logaritmik dan disebut tingkat tekanan suara (disimbolkan SPL atau Lp) sebagai berikut:

Tingkat tekanan suara ini bersesuaian dengan loudness atau kerasnya suara yang didengar telinga sehingga digunakan untuk mendeskripsikan seberapa keras suara yang didapatkan oleh penerima suara.

Hubungan antara intensitas suara, tekanan suara dan daya suara di luar ruangan

Hubungan antara intensitas suara, tekanan suara dan daya suara adalah sebagai berikut:

Dimana p adalah densitas medium dan c adalah cepat rambat suara pada medium tersebut.

Untuk dapat menghitung suara yang diterima oleh penerima suara dari sumber tertentu, maka kita perlu untuk mengetahui hubungan dari tingkat daya suara sumber ke tingkat tekanan suara pada penerima. Hubungan Lp dengan Lw untuk sumber titik pada kondisi free field adalah sebagai berikut

Q adalah directivity factor yang bergantung pada lokasi sumber terhadap permukaan terdekat. Nilai Q dan DI adalah sebagai berikut:

Dengan kata lain, nilai Q bergantung pada bentuk propagasi sumber suara yaitu 1/Q bola. Jika bentuk sumber suara adalah bola maka nilai Q=1, jika setengah bola (1/2), maka nilai Q adalah 2, jika seperempat bola (1/4), maka nilai Q adalah 4, jika seperdelapan bola (1/8) maka nilai Q adalah 8.

Disamping jarak dan lokasi sumber terhadap permukaan, terdapat beberapa koreksi lain yang digunakan sehingga perhitungan dapat lebih akurat. Sebagai contoh, terdapat beberapa koreksi pada ISO 9613-2 (Acoustics – Attenuation of sound during propagation outdoors – Part 2: General method of calculation) untuk perhitungan propagasi luar ruangan sebagai berikut:

  • Absorpsi atmosfer: Atmosfer dapat menyerap suara dimana nilai atenuasinya bergantung pada temperatur dan kelembapan udara dimana suara berpropagasi.
  • Efek pantulan dari tanah: Jenis tanah dapat mempengaruhi besarnya pantulan suara yang diterima oleh penerima suara. Di standar ini, terdapat tiga kategori tanah yang didefinisikan yaitu keras, berpori dan campuran.
  • Penghalang: Jika sumber dan penerima terhalang oleh suatu benda, misalkan dinding, maka efek dari difrasi suara akibat penghalang ini perlu diperhitungkan.
  • Pantulan: Pantulan dari benda lain, misalkan gedung, dapat mempengaruhi besarnya tingkat suara yang diterima oleh penerima suara.
  • Koreksi meteorologi: Koreksi untuk kondisi meteorologi jika kondisi tidak sesuai dengan yang disyaratkan oleh ISO 9613 (downwind condition)

Regulasi, pedoman dan standar terkait kebisingan lingkungan di Indonesia

By | All, Articles, Kebisingan, News, Uncategorized, Vibration | No Comments

Dengan banyaknya pembangunan, aktivitas industri dan aktivitas masyarakat pada umumnya di Indonesia, kebisingan telah menjadi salah satu permasalahan yang menjadi perhatian di berbagi daerah. Indonesia sendiri sebetulnya sudah memiliki berbagai perangkat baik regulasi, pedoman dan standar sehingga tingkat kebisingan dapat terkontrol. Hal ini penting terutama untuk mendukung kesehatan masyarakat dan juga untuk memberikan kepastian pada penganggaran investasi pada proyek-proyek yang pada fase operasinya akan menghasilkan bising.

Berikut adalah regulasi, standar dan panduan terkait kebisingan lingkungan di Indonesia.

Regulasi Kebisingan Lingkungan

Regulasi terkait kebisingan lingkungan secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu regulasi untuk emisi dan juga regulasi untuk penerima. Regulasi emisi mengatur seberapa banyak kebisingan dapat dihasilkan oleh sumber-sumber kebisingan tertentu dan regulasi untuk penerima mengatur berapa banyak total kebisingan yang diperbolehkan untuk ada pada area tertentu.

Contoh regulasi emisi yang berlaku di Indonesia adalah:

  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 56 Tahun 2019 (P.56/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019) tentang baku mutu kebisingan kendaraan bermotor tipe baru dan kendaraan bermotor yang sedang diproduksi kategori M, kategori N, dan kategori L
  • Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 62 Tahun 2021 tentang peraturan keselamatan penerbangan sipil bagian 36 tentang standar kebisingan untuk sertifikasi tipe dan kelaikudaraan pesawat udara

Kedua peraturan menteri diatas meregulasi seberapa besar kebisingan boleh dihasilkan oleh kendaraan bermotor yang dikendarai di jalan dan juga pesawat udara yang beroperasi di wilayah Republik Indonesia.

Sedangkan untuk regulasi kebisingan yang mengatur tingkat kebisingan pada penerima diatur pada

  • Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.48 Tahun 1996 tentang baku tingkat kebisingan

Pada peraturan tersebut, diatur mengenai batas kebisingan yang diperbolehkan pada penerima sesuai dengan fungsinya – misalkan pada pemukiman, baku tingkat kebisingannya adalah 55 dBA dan pada area industri 70 dBA. Selengkapnya pada tautan berikut: https://www.konsultasi-akustik.com/kebisingan-lingkungan/standar-kebisingan/

Selain itu, terdapat juga persyaratan lain, misalnya pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 36 Tahun 2005 tentang peraturan pelaksanaan Undang-Undang nomor 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung. Salah satu butir pada peraturan ini mensyaratkan sarana peredam kebisingan untuk jalan bebas hambatan di lingkungan permukiman atau pusat kota yang sudah terbangun.

Panduan Mengenai Kebisingan Lingkungan

Selain regulasi, terdapat beberapa panduan atau pedoman yang bersifat lebih teknis yang dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum sebagai berikut:

  • Pedoman Teknik Ditjen Bina Marga No. 36 Tahun 1999: Pedoman perencanaaan teknik bangunan peredam bising.
    Pada pedoman ini, diberikan kriteria pembagian daerah berdasarkan resiko kebisingannya menjadi daerah aman, moderat dan resiko. Selain itu, dijabarkan juga teknik pengukuran di sisi jalan dan juga jenis, bentuk dan bahan bangunan peredam bising
  • Pemodan Konstruksi dan Bangunan Pd T-10-2004-B: Prediksi kebisingan akibat lalu lintas.
    Pedoman yang diadopsi dari Calculation of Road Traffic Noise (CoRTN, 1998, UK) ini memberikan cara perhitungan kebisingan yang dihasilkan jalan berdasarkan jumlah kendaraan dan kecepatannya. Kemudian terdapat koreksi untuk persentase kendaraan berat, kecepatan, gradien dan jenis permukaan jalan. Dari perhitungan pada jalan tersebut, propagasi kebisingan pada penerima dapat dihitung dengan mempertimbangkan jarak, penghalang, pantulan dan sudut pandang.
  • Pedoman Konstruksi dan Bangunan Pd T-16-2005-B: Mitigasi dampak kebisingan akibat lalu lintas jalan.
    Pedoman ini menjabarkan cara untuk melakukan mitigasi terhadap dampak kebisingan yang dapat didasari oleh pengukuran (seperti yang dijabarkan pada Permen LH No 48 tahun 1996 dan panduan teknis No. 36 tahun 1999 diatas) dan juga berdasarkan prediksi (Pedoman teknis Pd T-10-2004-B).

Standar Mengenai Kebisingan Lingkungan

Selain regulasi dan pedoman diatas, terdapat Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang terkait dengan kebisingan lingkungan yaitu:

  • SNI 19-6878-2002 – Metode uji tingkat kebisingan jalan L10 dan Leq
    Standar ini menyajikan metode uji berupa tahapan pengujian serta cara perhitungan data kebisingan LA menjadi nilai L10 dan Leq.
  • SNI 8427:2017 – Pengukuran tingkat kebisingan lingkungan
    Standari ini memberikan cara pengukuran kebisingan lingkungan dengan konten yang mirip dengan KepMen LH No. 48 tahun 1996 yaitu dengan mengukur sampel kebisingan selama 10 menit pada waktu yang tersebar selama 24 jam. Kebisingan kemudian dapat dihitung berdasarkan waktunya yaitu Ls (kebisingan siang hari), Lm (kebisingan malam hari) dan Lsm (kebisingan rata-rata siang dan malam hari, dengan kebisingan malam hari mendapatkan penalti sebesar 5 dB).

Application of Noise Modelling & Mapping in Environmental Noise Mitigation

By | All, Articles, blog, Environmental Noise, Kebisingan, News, Uncategorized, Vibration | No Comments

Geonoise, didukung oleh AAVI, SoundPLAN dan KK Fisika Bangunan ITB menyelenggarakan Webinar dengan judul "Application of Noise Modelling & Mapping in Environmental Noise Mitigation"

Mari bergabung untuk mengikuti pemaparan dari para narasumber ahli. Segera daftarkan diri anda, gratis!

Webinar: Application of Noise Mapping & Environmental Noise Mitigation
🗓️ Rabu, 13 Oktober 2021
⏱️ 09.30-12.00
Platform: Zoom

Link Pendaftaran : https://bit.ly/GeonoiseWebinar

Pembicara:
1. Jochen Schaal (Managing director SoundPLAN GmbH)
2. Michel Rosmolen (Presiden Geonoise Asia Group)
3. Hizkia Natanael (Direktur Geonoise Indonesia)

Moderator : Iwan Prasetiyo S.T, M.T, Ph.D.- Dosen Teknik Fisika ITB

📞Info : 081364324389
support.id@geonoise.asia