Insulasi antar ruangan pada bangunan

 

Pada sebuah bangunan, agar fungsi dari tiap ruang optimal, dibutuhkan kondisi akustik tertentu. Salah satu hal yang menentukan adalah insulasi antar ruang. Pada banyak kebutuhan, diinginkan kondisi dimana jika pada salah satu ruang dilakukan aktivitas yang menimbulan bunyi, suara tersebut tidak terdengar pada ruangan di sebelah maupun diatas atau dibawahnya.

Terdapat dua jenis insulasi akustik antar ruang yaitu airborne dan impact. Insulasi airborne adalah insulasi suara pada saat suara tersebut diproduksi di udara, sedangkan impact insulation adalah insulasi suara pada saat suara diproduksi akibat adanya hentakan pada struktur. Sebagai contoh, pada saat seseorang berbicara di sebuah ruangan dan terdengar dengan jelas di ruangan yang bersebelahan, maka dapat dikatakan bahwa insulasi airborne antar ruang tersebut buruk. Untuk impact insulation, jika seseorang berjalan di lantai 2 dan terdengar jelas suaranya di lantai 1, maka dapat dikatakan bahwa impact insulation antara lantai 2 dan lantai 1 tersebut buruk.

Beberapa contoh dari bangunan yang membutuhkan insulasi airborne dan impact yang baik adalah bangunan vertikal (apartemen, hotel, perkantoran), rumah tinggal, tempat belajar (sekolah, perguruan tinggi, dsb.) ruang olahraga (terutama jika tidak di lantai dasar), dan bangunan lainnya.

Ilustrasi airborne insulation yang buruk

Ilustrasi impact insulation yang buruk

Agar kondisi di atas tidak terjadi pada bangunan, maka diperlukan rancangan yang baik dari sudut pandang akustik. Untuk menguji desain, kebisingan dapat dimodelkan menggunakan perangkat lunak sehingga performa insulasi suara dapat diprediksi. Setelah bangunan dibangun, pada banyak kasus pemilik gedung ingin memastikan bahwa insulasi akustik pada gedungnya memiliki performa yang baik, sebelum serah terima gedung dan bangunan digunakan. Untuk hal tersebut, pengukuran insulasi akustik airborne dan impact dapat dilakukan.

Pengukuran akustik airborne dilakukan dengan membunyikan sumber suara pada satu ruangan, kemudian tingkat tekanan suara diukur pada ruangan sumber, dan ruangan di sebelahnya. Dari hasil pengukuran tersebut, didapatkan perbedaan suara pada ruang sumber dan ruang penerima. Salah satu standar yang mengatur pengukuran ini adalah ISO 140-4.

Pengukuran akustik impact dilakukan dengan membuat impact pada sebuah ruangan. Impact tersebut dapat bersumber dari tapping machine ataupun impact ball. Kemudian tingkat tekanan suara diukur pada ruangan dibawahnya. Salah satu standar yang mengatur pengukuran impact insulation ini adalah ISO 140-7.

Geonoise menyediakan peralatan untuk sumber suara pengukuran insulasi (see more), dan juga sound level meter (see more).

Untuk mengetahui letak terjadinya kebocoran suara (sound leakage) pada partisi, dapat digunakan acoustic camera (see more).