Menelusuri Transportasi Umum Warga Jakarta Melalui Suara

By | Uncategorized | No Comments

Jakarta, ibu kota Indonesia, adalah rumah bagi 10 juta penduduk Indonesia. Baru-baru ini pemerintah Indonesia digugat oleh sekelompok aktivis dan pencinta lingkungan karena kualitas udara yang tidak sehat di Jakarta. Penggugat berharap bahwa melalui gugatan tersebut, pemerintah Indonesia dapat meningkatkan kebijakan yang ada untuk mengatasi masalah polusi udara.

Pada 18 Juli, menurut AirVisual, layanan pemetaan polusi udara yang berpusat di Swiss, Indeks Kualitas Udara/Air Quality Index (AQI) Jakarta adalah 153, dikategorikan sebagai tidak sehat dan dapat menyebabkan peningkatan pembengkakan jantung dan paru-paru. Rekomendasi untuk kondisi ini adalah mengenakan masker dan menggunakan pembersih udara/air purifier di dalam ruangan. AQI Mengukur lima kriteria polutan udara (partikel, sulfur, dioksida, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan ozon), dan mengubah konsentrasi polutan yang terukur di udara komunitas menjadi angka pada skala 0 hingga 500.

Sumber: AirVisual

Jakarta adalah salah satu aglomerasi perkotaan terbesar di dunia. Peningkatan populasi perkotaan yang tidak terkendali sebanding dengan jumlah kendaraan di Jakarta. Menurut Badan Pusat Statistik (Statistik Indonesia), pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta adalah 5,35% setiap tahun, di sisi lain, pertumbuhan ini akan meningkatkan jumlah polusi di Jakarta. Pernyataan ini didukung oleh penjabat kepala Badan Lingkungan Hidup Jakarta, Andono Warih, 80 persen penyebab polusi udara di ibu kota ialah emisi kendaraan bermotor.

Sebetulnya, warga Jakarta dapat berkontribusi langsung untuk mengatasi masalah polusi udara. Menggunakan Transportasi umum adalah cara ramah lingkungan untuk bepergian. Karena transportasi umum membawa banyak penumpang hanya dengan satu kendaraan, sehingga dapat mengurangi jumlah kendaraan serta mengurangi jumlah emisi dari transportasi di daerah perkotaan yang padat. Lebih jauh, transportasi umum dapat membantu Jakarta untuk mengurangi kabut asap, untuk memenuhi standar kualitas udara dan untuk mengurangi risiko kesehatan dari kualitas udara yang tidak sehat.

Sistem transportasi perkotaan di Indonesia terdiri dari angkutan perkotaan, bus, kereta/kendaraan berbasis rel dan feri. Khususnya di Jakarta, transportasi berbasis rel perkotaan, seperti Kereta Commuter Line, Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT), menyediakan mobilitas dan akses ke daerah perkotaan.

MRT Jakarta Fase 1
Sumber: MRT Jakarta

Fase pertama MRT Jakarta (MRT-J) telah beroperasi sejak Maret 2019. Dalam operasi sehari-hari, kereta berjalan dari Stasiun Grab Lebak Bulus hingga Stasiun Bundaran HI. Ada 13 stasiun di sepanjang rel; stasiun underground adalah Bundaran HI, Dukuh Atas BNI, Setiabudi Astra, Bendungan Hilir, Istora Mandiri, dan Stasiun Senayan. Sementara itu, stasiun overground adalah ASEAN, Blok M, Blok A, Haji Nawi, Cipete Raya, Fatmawati, dan Stasiun Grab Grab Lebak Bulus. MRT-J hanya memerlukan 30 menit untuk melakukan perjalanan sepanjang 16 kilometer, mulai dari Stasiun Lebak Bulus Grab di Jakarta Selatan ke Stasiun Bundaran HI di Jakarta Pusat.

Ada 16 jalur kereta yang tersedia untuk membawa para penumpang berkeliling. Berdasarkan situs MRT-J, Dalam operasi hari kerja, kereta beroperasi pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB dengan total 285 perjalanan. Sementara itu, dalam operasi akhir pekan, kereta berjalan pada jam yang sama dengan total 219 perjalanan.

Selama operasi promo (1 April – 12 Mei), rata-rata jumlah penumpang harian mencapai 82.643, sedangkan setelah tarif penuh diberlakukan, jumlah penumpang rata-rata per hari adalah 81.459.

Gambar-gambar berikut merupakan pemandangan yang akan Anda alami apabila berkendara menggunakan dari MRT Jakarta.

Gambar diambil oleh Bagir Bintang Bahana

Jadi bagaimana menurut Anda? Sudahkah Anda mencoba menggunakan MRT Jakarta? Jika belum pernah, coba segera dan rasakan sensasi berbeda dari Angkutan Umum di Indonesia.

Selanjutnya, melalui artikel ini, saya ingin mengundang Anda, menjelajahi MRT Jakarta melalui perspektif yang berbeda, yang mungkin bagi sekelompok orang metode ini masih jarang digunakan, suara.

Apakah Anda menyadari bahwa suara dapat memberi tahu kita tentang karakter, tempat, dan waktu? Kadang-kadang, suara memberi tahu kita dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh visual, dan itu adalah ide tentang apa yang akan saya lakukan sekarang. Selanjutnya, Anda akan mendengar, file rekaman suara MRT-J ketika sedang beroperasi.

Suara direkam dengan metode soundwalk, setiap perjalanan yang tujuan utamanya adalah mendengarkan dengan saksama keadaan lingkungan sekitar. Metode ini memaparkan telinga kita pada setiap suara di sekitar kita di mana pun kita berada. Kita mungkin berada di rumah, berjalan di seberang jalan pusat kota, atau bahkan di kantor. Sementara itu, dalam hal ini, lingkungan yang menjadi objek adalah MRT Jakarta. Tujuannya untuk menangkap semua sumber suara yang ada selama pengoperasian MRT-J, termasuk aktivitas para penumpang.

Suara direkam dengan menggunakan mikrofon yang terpasang di iPhone X pada level 1,2 m di atas tanah. Suara berikut adalah suasana yang direkam saat MRT-J beroperasi dari Stasiun Bundaran HI ke Stasiun Setiabudi Astra, durasi rekaman suara adalah 4 menit dan 40 detik. Silakan gunakan earphone atau perangkat serupa untuk mendengarkan audio untuk pengalaman yang lebih baik.

Perhatian: harap atur volume sekitar 50 – 70% dari volume maksimum.

Setelah mendengarkan rekaman suara tersebut, dapatkah Anda mengidentifikasi sumber suara yang hadir di dalam rekaman? Berikut adalah sumber suara yang berhasil saya identifikasi:

  1. Suara mesin meningkatkan kecepatan
  2. Public Address System
  3. Suara mesin
  4. Gesekan rel
  5. Aktivitas penumpang (batuk, bersin, percakapan, langkah kaki, dll.)
  6. Suara Pintu Terbuka dan Tertutup
  7. Decitan Rem

Sekarang kita telah mengidentifikasi sumber suara yang disajikan dalam rekaman. Tapi, tahukah Anda berapa besar desibel yang harus saya tahan saat berkendara menggunakan MRT-J? Dalam artikel ini, pengukuran manual tingkat kebisingan dilakukan dengan Sound Level Meter di MRT Jakarta. Pengukuran tingkat suara dengan pembobotan A direkam langsung dari satu stasiun ke stasiun berikutnya selama waktu antara pukul 08:00 – 09:00, menggunakan mikrofon yang dikalibrasi dengan ketinggian 1,2 m di atas tanah. Hasil dari tingkat kebisingan kontinu dengan pembobotanA Leq (LAEq) di MRT-J dari satu stasiun ke stasiun berikutnya ditunjukkan pada Bagan 1.

LAEq di MRT-J dari satu stasiun ke stasiun lainnya

LAEq adalah energi pembobotan A dari tingkat kebisingan rata-rata selama periode pengukuran. Hasil dari pengukuran menunjukkan bahwa tingkat kebisingan berbobot A bervariasi antara 77 dB hingga 82 dB. Lebih jauh, jika kita amati lebih teliti, tingkat kebisingan terukur berfluktuasi. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti:

  1. Posisi MRTJ (Ketika MRT-J di dalam terowongan, kebisingan dapat naik karena fenomena refleksi).
  2. Kecepatan (Mesin mengindikasikan menghasilkan suara yang lebih tinggi ketika dalam kecepatan maksimum).
  3. Pertemuan Antar kereta/Path crossing.
  4. Volume dari Public Address System.

Selain itu, tingkat kebisingan yang ditampilkan pada Bagan 1 dapat merepresentasikan keadaan yang cukup bising. The National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, menyatakan bahwa paparan suara yang panjang atau berulang pada atau di atas 85 dB dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Jadi, berdasarkan hasil pengukuran, saya menyarankan Anda memakai pelindung telinga saat berkendara menggunakan MRT-J. Earplug adalah salah satu peralatan yang bisa kita gunakan untuk melindungi pendengaran kita; Anda hanya perlu menyisihkan beberapa ribu rupiah untuk ini. Mengenakan earplug dapat membantu Anda mengurangi kebisingan hingga 18 – 34 dB, tergantung pada model / merek.

Untuk hasil pengukuran yang lebih akurat, kita perlu melakukan pengukuran yang lebih kompleks, seperti:

  1. Menambahkan titik pengukuran (Dalam artikel ini, pengukuran dilakukan hanya di titik pengukuran, di mobil kedua garis).
  2. Menambahkan kecepatan sebagai parameter yang diukur.
  3. Menambahkan waktu pengukuran; pengukuran dapat dilakukan selama jam operasi, non-stop. (05:00 – 24:00 WIB).

Meskipun demikian, gagasan melakukan pengukuran ini adalah untuk menyebarkan kesadaran akan kebisingan. Kebisingan melekat di sekitar Anda, bahkan suara umum yang Anda dengar di tempat kerja atau di rumah dapat berkontribusi untuk gangguan pendengaran jangka panjang dan risiko kesehatan lainnya, kebisingan ada di mana-mana, tetapi hanya beberapa orang yang menyadarinya. Polusi suara adalah ancaman kesehatan yang tidak dibicarakan oleh banyak orang. Berikut adalah beberapa parameter untuk membantu Anda menentukan tingkat kebisingan yang berada dalam kategori aman sampai berbahaya:

  • 45 dB: ambang kebisingan di malam hari yang ditetapkan oleh beberapa kota yang peduli terhadap paparan kebisingan bafi penduduknya.
  • 65 db +: paparan untuk waktu lama dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental
  • 85 dB +: dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen jika terpapar dalam waktu lama
  • 85-120 dB: berbahaya jika terpapar lebih dari 30 menit
  • 120-130 dB: dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen untuk paparan lebih dari 30 detik
  • 130 dB +: Suara yang akan membuat Anda merasa sakit, perlindungan pendengaran harus selalu digunakan.

Setiap orang perlu menjaga telinga dan pendengaranya, karena kerusakan pada sistem pendengaran tidak dapat diperbaiki. Kerugian karena paparan kebisingan akan dialami secara bertahap. Anda mungkin tidak melihat tanda-tandanya, atau Anda mengabaikannya sampai akhirnya tanda – tanda kerusakan pendengaran bisa dirasakan lebih jelas.

Tolong lindungi pendengaran Anda.

Referensi:

Afifa, L. (2019). Jakarta Air Pollution Mostly Caused by Motorized Vehicles: Agency. [online] Tempo. Available at: https://en.tempo.co/read/1214627/jakarta-air-pollution-mostly-caused-by-motorized-vehicles-agency [Accessed 2 Oct. 2019].

Jakarta.bps.go.id. (2019). BPS Provinsi DKI Jakarta. [online] Available at: https://jakarta.bps.go.id/publication/2018/10/03/cb1285d8dbe8be8754a5830d/statistik-transportasi-dki-jakarta-2018.html [Accessed 2 Oct. 2019].

Dsikowitzky, L., van der Wulp, S., Dwiyitno, Ariyani, F., Hesse, K., Damar, A. and Schwarzbauer, J. (2018). Transport of pollution from the megacity Jakarta into the ocean: Insights from organic pollutant mass fluxes along the Ciliwung River. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 215, pp.219-228.

Fink, D. (2017). What Is a Safe Noise Level for the Public?. American Journal of Public Health, 107(1), pp.44-45.

Goldthwaite, J. (2019). Noise is everywhere. How to deal with it? Does it create a dangerous environment?. [online] Sensear.com. Available at: https://www.sensear.com/blog/noise-is-everywhere-how-to-deal-with-it-does-it-create-a-dangerous-environment [Accessed 2 Oct. 2019].

Lamb, K. (2019). Jakarta residents to sue government over severe air pollution. [online] the Guardian. Available at: https://www.theguardian.com/world/2019/jul/02/jakarta-residents-to-sue-government-over-severe-air-pollution [Accessed 2 Oct. 2019].

Nationalexpresstransit.com. (2019). Why is Public Transportation Good for the Environment?. [online] Available at: https://www.nationalexpresstransit.com/blog/why-is-public-transportation-good-for-the-environment/ [Accessed 2 Oct. 2019].

Situmorang, S. and Situmorang, S. (2019). Indonesia: accelerating urban transportation development with public-private partnership. [online] The Business Times. Available at: https://www.businesstimes.com.sg/asean-business/indonesia-accelerating-urban-transportation-development-with-public-private [Accessed 2 Oct. 2019].

Support.airvisual.com. (2019). What is AQI?. [online] Available at: http://support.airvisual.com/knowledgebase/articles/1185775-what-is-aqi [Accessed 2 Oct. 2019].

Westerkamp, Hildegard (1974). “Soundwalking”. Sound Heritage

Women’s Health. (2019). Noise Pollution Is The Biggest Health Threat Nobody Is Talking About. [online] Available at: https://www.womenshealthmag.com/health/a19599097/noise-pollution/ [Accessed 2 Oct. 2019].

Pengukuran Parameter Akustik Berdasarkan ISO 3382 – 1

By | Uncategorized

Waktu dengung merupakan salah satu parameter yang sering digunakan untuk mengetahui kualitas akustik sebuah ruangan. Seperti yang kita ketahui, kualitas akustik ini akan bergantung pada fungsi ruangannya apakah akan digunakan untuk speech atau music. Contohnya untuk fungsi speech, ketika  sebuah ruang menghasilkan waktu dengung yang terlalu panjang, maka kejelasan bunyi akan tertupi oleh oleh pantulan bunyi itu sendiri. Sedangkan, untuk fungsi musik, waktu dengung dapat menambah ketertarikan akan bunyi sehingga bunyi yang dihasilkan oleh alat musik terkesan hidup. Waktu dengung atau Reverberation Time (RT60) merupakan waktu yang dibutuhkan sebuah bunyi untuk meluruh sebesar 60dB sejak bunyi dihasilkan. Waktu dengung dapat diprediksi dengan menggunakan formula Sabine

RT60 = 0,161V / Sα

RT60: Waktu dengung
V: Volume ruang
S: Luasan area
α: Rata-rata koefisien serap ruang
Sα: Total penyerapan ruang dalam “Sabine”

Nilai waktu dengung yang ideal akan bergantung kepada fungsi dan besar volum dari ruangan itu sendiri. Semakin besar volum ruangan, maka kebutuhan akan waktu dengung juga semakin panjang. Berikut adalah rekomendasi nilai waktu dengung untuk beberapa jenis ruangan.

Tabel 1. Rekomendasi nilai RT60 untuk beberapa jenis ruangan

Pada praktik pengukuran waktu dengung, umumnya suara yang dihasilkan dari sumber bunyi sangat sulit untuk mencapai 60dB di atas background noise level (tingkat bising latar belakang) dalam ruangan. Untuk itu digunakan beberapa metode untuk mendekati waktu dengung dengan cara mengambil data peluruhan selama beberapa dB kemudian diekstrapolasi hasilnya sehingga mencapai 60dB. Berikut adalah parameter pendekatan yang dimaksud:

  1. EDT (Early Decay Time): ekstrapolasi data peluruhan selama -5dB s/d -15dB.
  2. T20: ekstrapolasi data peluruhan selama -10dB s/d -30dB.
  3. T30: ekstrapolasi data peluruhan selama -10dB s/d -40dB.

Lalu bagaimana cara untuk melakukan pengukuran parameter – parameter akutik tersebut? Dalam artikel ini, saya akan memberikan penjelasan singkat mengenai pengukuran parameter akustik untuk performance space berdasarkan ISO 3382:1.

  1. Peralatan

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengetahui apa saja peralatan yang diperlukan untuk mendapatkan parameter yang dimaksud. Peralatan yang dipergunakan memiliki spesifikasi khusus. Berikut adalah peralatan yang diperlukan dalam pengukuran waktu dengung beserta penjelasannya.

a. Sumber Suara

Sumber suara harus memiliki karakteristik sedekat mungkin dengan karaketeristik omnidirectional sound source.

Tabel 2. Deviasi maksimum dari  directivity sumber suara dalam desibel untuk eksitasi dengan pita oktaf dari pink noise dan diukur di Free field.

Sumber suara tersebut harus menghasilkan tingkat tekanan suara/ Sound Pressure Level (SPL)  yang cukup kuat untuk mendapatkan kurva peluruhan dengan rentang dinamis minimum yang diperlukan, tanpa kontaminasi/gangguan/intervensi dari kebisingan latar belakang (background noise). Untuk pengukuran respons impuls menggunakan pseudo-random sequences, SPL yang diperlukan mungkin cukup rendah, karena peningkatan dari signal-to-noise ratio oleh means of synchronous averaging. Sedangkan dalam pengukuran tanpa menggunakan synchronous averaging teknik (metode lain), SPL yang diperlukan setidaknya lebih tinggi 45dB di atas Background Noise dalam pita frekuensi yang sesuai. Namun apabila hanya parameter T20 yang akan diukur, maka, SPL yang diperlukan setidaknya lebih tinggi 35 dB di atas Background Noise.

b. Microphones, recording and analysis equipment

Dalam pengukuran waktu dengung, jenis mikrofon yang digunakan adalah omnidirectional. Mikrofon dapat dihubungkan melalui

  • langsung ke amplifier, filter set dan sistem untuk menampilkan kurva peluruhan atau peralatan analisis untuk mendapatkan (deriving) respons impuls, atau
  • melalui perekam sinyal untuk dianalisa kemudian.

Microphone and Filter

Peralatan pengukuran harus memenuhi persyaratan instrumen/alat ukur tingkat bunyi (mikrofon) class-1 berdasarkan IEC 61672-1. Mikrofon harus memiliki ukuran sekecil mungkin,

  • Diafragma maksiumum sebesar 13 mm, atau
  • Mikrofon dengan diameter maksimum 26 mm (Jika, mikrofon tersebut merupakan berjenis pressure response or the free field response, maka mikrofon harus dilengkapi random incidence corrector yielding padarespon frekuensi datar untuk random incidence.

Selain itu, filter oktaf atau sepertiga oktaf yang digunakan harus sesuai dengan IEC 61260.

  • Alat Perekam

Jika peluruhan suara pada awalnya direkam menggunakan magnetic tape atau alat perekam digital, maka kontrol penguat otomatis atau sirkuit lain yang digunakan untuk optimasi dinamis untuk signal-to-noise ratio tidak boleh digunakan. Waktu perekaman setiap peluruhan harus cukup lama untuk mendapatkan tingkat background level setelah peluruhan; waktu perekakaman minimum yang direkomendasikan adalah lima detik ditambah waktu dengung yang diharapkan.

Untuk kombinasi perekaman dan playback speeds yang digunakan, maka alat perekam harus memiliki karakteristik di bawah ini:

  • Respons frekuensi harus datar pada rentang frekuensi pengukuran dengan toleransi yang lebih kecil dari ± 3 dB.
  • Rentang dinamis (dynamic range) pada alat perekam harus memadai untuk memungkinkan rentang kurva peluruhan minimum yang diperlukan. Dalam hal peluruhan pada metode interrupted noise, perekam harus mampu memberikan signal-to-noise ratio paling sedikit 50 dB di setiap pita frekuensi.
  • Rasio playback speeds dengan kecepatan rekaman harus berada dalam  ± 2% dari 100,1 × n, di mana n adalah bilangan bulat termasuk nol.
  • Pelengkap untuk menampilkan dan/atau mengevaluasi tingkat peluruhan

Pelengkap atau “tools” yang digunakan untuk menampilkan dan/atau mengevaluasi peluruhan pada saat perekaman/pengambilan data:

  • rata-rata eksponensial, dengan kurva kontinu sebagai keluaran;
  • rata-rata eksponensial, dengan titik sampel diskrit berturut-turut dari rata-rata kontinu sebagai keluaran;
  • linear averaging, dengan rata-rata linear diskrit berturut-turut sebagai keluaran.

Averaging time/waktu rata – rata yaitu waktu konstan dari sebuah perangkat rata – rata eksponensial, dengan nilai harus kurang dari, namun mendekati T/30. Demikian pula dengan averaging time dari linear averaging device harus kurang dari T/20. Di mana T merupakan reverberation time terukur.

Apabila perekaman peluruhan ditampilkan dalam bentuk discrete point, maka interval berada diantara point perekaman (harus lebih kecil dari 1,5 kali averaging time dari alat perekam).

Ketika peluruhan akan dievaluasi dalam bentuk visual, sesuaikan skala waktu pada display sehingga kemiringan yang ditampilkan mendekati sudut 45° .

2. Posisi Pengukuran

Posisi sumber suara pengukuran  harus di tempatkan sesuai dengan sumber suara alami berada. Dalam pengukuran ini, minimal dua posisi sumber suara dibutuhkan dengan ketinggian 1,5 m di atas lantai.

Posisi mikrofon harus berada pada area yang mewakili posisi pendengar berada. Penentuan posisi mikrofon, pada pengukuran reverberation time/waktu dengung merupakan hal yang sangat penting. Disarankan bahwa, penentuan posisi mikrofon harus mewakili pengukuran sampel seluruh ruang.

Posisi antar mikrofon setidaknya harus setengah kali dari panjang gelombang, sekitar 2 m untuk rentang frekuensi yang biasa digunakan. Sedangkan, jarak mikrofon ke permukaan bidang pantul, termasuk lantai, setidaknya harus berjarak seperempat kali  dari panjang gelombang atau sekitar 1 m. Posisi mikrofon tidak boleh terlalu dekat dengan posisi sumber apa pun, untuk menghindari pengaruh dari suara langsung. Pengukuran di ruangan untuk fungsi pidato/bicara (speech) dan musik, ketinggian mikrofon di atas lantai harus 1,2 m, sesuai dengan tinggi telinga pendengar rata-rata ketika duduk di atas kursi.

Distribusi posisi mikrofon perlu memperhatikan geometri ruangan agar dapat mengantisipasi pengaruh besar pada perbedaan waktu dengung di seluruh ruangan. Contohnya, area khusus seperti tempat duduk dekat dengan dinding, di bawah balkon atau di ruang-ruang yang dipisahkan (seperti church transepts). Maka, hal Ini membutuhkan penilaian atas pemerataan distribusi “akustik” ke area tempat duduk yang khusus. Sehingga, untuk pengukuran waktu dengung, akan diperlukan penilaian ruangan terhadap kriteria berikut (yang dalam banyak kasus hanya akan memerlukan penilaian visual) untuk menentukan apakah single spatial averages (nilai rata-rata matematika lebih dari beberapa titik dalam ruang) akan cukup menggambarkan ruangan, berikut adalah hal – hal yang perlu diperhatikan dalam menilai suatu ruangan:

  • Nilai absorpsi dan difusi dari material yang digunakan pada batas permukaan dan suspended elements. Perhatikan apakah penggunaannya tersebar secara merata di antara permukaan yang mengelilingi ruangan. Apabila tidak terdapat daerah yang mencakup lebih dari 50% (langit – langit, dinding samping, depan, dan belakang) masing-masing, dengan sifat yang berbeda dari permukaan yang tersisa, maka dapat dianggap bahwa distribusi tersebar merata,
  • Volume ruangan dapat dianggap sebagai ruang tunggal jika tidak ada bagian dari area lantai yang garis pandangnya terhalang ke bagian lain ruangan yang lebih dari 10% dari total volume ruangan. Jika kondisi ini tidak terpenuhi, maka ruangan cenderung menunjukkan area dengan waktu gema yang berbeda, dan ini harus diselidiki dan diukur secara terpisah.

3. Prosedur Pengukuran

Berdasarkan ISO 3382, pengukuran reverberation time dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu metode integrated impulse response dan interrupted noise. Kedua metode tersebut akan menghasilkan nilai yang sama. Di sisi lain, rentang frekuensi hasil pengukuran akan bergantung pada tujuan dari pengukuran. Untuk tujuan survei, frekuensi setidaknya berada di rentang 250 Hz – 2,000 Hz sedangkan untuk tujuan bidang keteknikan atau hasil yang lebih presisi, frekuensi setidaknya berada di rentang 125 Hz – 4,000 Hz (octave bands) atau 100 Hz – 5,000 Hz (one-third octave bands).

Interrupted Noise Method

  • Eksitasi Ruangan (Excitation of the room)

Sebuah Loudspeaker perlu digunakan sebagai sumber suara dan sinyal yang digunakan harus berasal dari broadband random atau pseudo-random electrical noise. Ketika menggunakan pseudo-random electrical noise, sinyal tersebut harus berhenti secara acak, tidak menggunakan sebuah repeated sequence. Untuk mendapatkan kurva peluruhan suara, sumber suara (Loudspeaker)  harus menghasilkan tingkat tekanan suara yang cukup, setidaknya 35 dB di atas Background Noise pada rentang frekuensi yang sesuai. Namun apabila ingin mengetahui nilai parameter T30, maka, maka tingkat tekanan suara yang diperlukan adalah setidaknya 45 dB di atas Background Noise di setiap band frequencies.

Untuk pengukuran di frekuensi octave bands (satu oktaf), bandwidth sinyal harus lebih besar dari satu oktaf, dan hal yang sama berlaku untuk pengukuran dalam sepertiga-oktaf band, bandwidth sinyal harus lebih besar dari sepertiga oktaf. Sehingga, rentang frekuensi yang mencakup sepertiga-oktaf band dengan mid-band frequencies berada pada rentang 100 Hz – 5 kHz sedangkan untuk oktaf band frequencies berada pada rentang 125 Hz – 4kHz.

Untuk pengukuran untuk tujuan bidang keteknikan atau hasil yang lebih presisi, durasi eksitasi di ruangan harus cukup lama agar bidang suara dapat mencapai kondisi steady sebelum sumber dimatikan. Oleh karena itu, penting agar sumber suara dieksitasi setidaknya selama beberapa detik dan tidak kurang dari setengah kali waktu reverberation time. Sedangkan untuk tujuan survei, eksitasi singkat atau sinyal impuls dapat digunakan sebagai alternatif dari interrupted noise signal. Namun, dalam hal itu, akurasi pengukuran perlu dilakukan. Lihat bagian ketidak pastian pengukuran.
Eksitasi adalah penambahan tenaga pada suatu sistem yang mengalihkannya dari keadaan dasarnya ke suatu keadaan dengan tenaga yang lebih tinggi.

  • Averaging Measurement

Jumlah posisi mikrofon yang akan digunakan ditentukan berdasarkan tabel berikut:

Tabel 3. Jumlah minimum posisi mikrofon

Karena sumber suara/sumber sinya memiliki karakteristik sebagai random signal, maka   menentukan nilai rata – rata atas sejumlah pengukuran di setiap posisi perlu dilakukan untuk memenuhi ketidakpastian pengukuran. Untuk merata – ratakan jumlah pengukuran di setiap posisi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  • Temukan individual reverberation time untuk semua kurva peluruhan dan ambil nilai rata-ratanya, atau
  • Temukan nilai rata-rata dari peluruhan (ensemble) squared pressure level dan temukan nilai reverberation time dengan menggunakan kurva peluruhan.

Integrated Impulse Response

  • Eksitasi Ruangan

Respons impuls didapatkan dengan cara megukur langsung sumber impuls  seperti  tembakan pistol, dan juga sumber lain dengan spektrum yang luas seperti spark gap impulse, semburan kebisingan (noise burst), chirps dan MLSs. ISO 3382 tidak membatasi metode yang dapat digunakan untuk mendapatkan Respon Impuls. Namun, perlu diingat kembali bahwa, sumber suara harus memiliki tingkat tekanan yang kuat.

Respon impuls  harus menghasilkan tingkat tekanan suara yang cukup, setidaknya 35 dB di atas Background Noise pada rentang frekuensi yang sesuai. Namun apabila ingin mengetahui nilai parameter T30, maka, maka tingkat tekanan suara yang diperlukan adalah setidaknya 45 dB di atas Background Noise di setiap pita frekuensi.

Untuk kasus tertentu, sinyal suara khusus dapat digunakan untuk menghasilkan respons impuls, setelah dilakukan pemrosesan khusus yang berasal dari sinyal mikrofon yang direkam, metode ini dijelaskan secara lengkap pada ISO 18233.

Metode ini dapat meningkatkan signal-to-noise ratio. Sine sweep atau pseudo-random noise seperti MLS dapat digunakan jika persyaratan untuk spektrum dan karakteristik arah dari sumber terpenuhi. Karena peningkatan signal-to-noise ratio maka persyaratan minimal untuk sumber sinyal dapat jauh lebih rendah daripada yang ditetapkan (lihat pada bagian sebelumnya). Naumn, jika rata-rata waktu digunakan, maka prosesnya perlu diverifikasi agar tidak mengubah respons impuls yang diukur. Dengan menggunakan teknik pengukuran ini, maka frequency filtering menjadi suatu hal yang wajib dalam proses analisis sinyal, sehingga sumber sinyal yang dilakukan harus mencakup pita frekuensi yang akan diukur.

  • Integrasi Respon Impuls

Backward integration dari squared impulse response dapat digunakan untuk mendapatkan kurva peluruhan pada setiap pita oktaf atau band frequencies. Dalam keadaan ideal tanpa kebisingan latar belakang, integrasi harus dimulai pada akhir respon impuls (t → ∞) dan berlanjut pada bagian awal dari squared impulse response. Sehingga, peluruhan sebagai fungsi waktu dapat didefinisikan menjadi

p is the sound pressure of the impulse response as a function of time;
E is the energy of the decay curve as a function of time;
t is the time.

Integral dalam waktu yang terbalik atau reverse time seperti persamaan di atas sering diturunkan dengan melakukan dua integrasi, sehingga persamaan di atas dapat ditulis menjadi

Untuk meminimalisir pengaruh dari background noise pada respon impuls, maka deiperlukan metode khusus untuk mendapatkan energi pada kurva peluruhan. Jika background noise diketahui, tentukan titik awal integrasi, t1, sebagai persimpangan antara garis horizontal sebagai representasi dari background noise dan garis miring sebagai representasi dari squared impulse response dan hitung kurva peluruhan menggunakan persamaan berikut

Nilai yang reliable biasanya didapatkan ketika C dihitung dengan asumsi peluruhan energi eksponensial dengan laju yang sama seperti rentang waktu respon impuls kuadrat antara t0 dan t1, di mana t0 adalah waktu yang sesuai dengan tingkat suara lebih tinggi 10 dB dari level tingkat suara pada saat t1. Jika nilai C diatur menjadi nol, batas awal dari proses integrasi akan menyebabkan waktu dengung yang bias (systematic underestimation). Untuk maximum underestimation sebesar 5%, level dari background noise setidaknya harus mencapai nilai yang telah dievaluasi ditambah 15dB di bawah maksimum respon impuls. Misalnya, untuk penentuan T30, tingkat kebisingan latar belakang harus setidaknya 45 dB di bawah nilai maksimum.

4. Evaluasi Kurva Peluruhan

Untuk menentukan nilai T30 maka, kurva peluruhan yang dievaluasi berada pada rentang 5 dB sampai 35 dB di bawah tingkat tunak. Untuk metode integrasi respon impuls, tingkat tunak adalah total dari tingkat integrasi respon impuls. Dalam rentang evaluasi, a least-squares fit line harus dihitung untuk kurva atau, dalam kasus kurva peluruhan diplot secara langsung oleh perekam level, garis lurus harus dipasang secara manual sedekat mungkin dengan kurva peluruhan.

5. Ketidakpastian Pengukuran

  • Interrupted Noise Method

Karena sifat ketidakpastian yang dimiliki oleh sinyal/sumber suara, maka ketidakpastian pengukuran pada metode interrupted noise method akan bergantung pada jumlah rata – rata pengukuran yang dilakukan. Deviasi standar dari hasil pengukuran σ (T20) atau σ (T30), masing-masing, dapat diperkirakan dari Persamaan berikut:

B adalah Bandwith dalam Hz
B = 0.71 fc untuk 1/1 octave filter
B = 0,23 fc untuk 1/3 octave filter
fc = Mid-band frequency
n adalah jumlah pengukuran peluruhan di setiap posisi
N adalah Jumlah dari posisi pengukuran independen (kombinasi posisi sumber dan penerima)
T20  adalah Reverberation time, berdasarkan rentang evaluasi sebesar 20 dB
T30  adalah Reverberation time, berdasarkan rentang evaluasi sebesar 30 dB

  • Inetgrated Impulse Response

Secara teori, metode respon impuls terintegrasi sama dengan interrupted noise excitation. Untuk evaluasi secara praktikal dari ketidakpastian pengukuran menggunakan metode respon impuls terintegrasi, dapat dianggap sama menggunakan rata – rata pengukuran dengan nilai n = 10 di setiap posisi pengukuran menggunakan  metode interrupted noise. Tidak diperlukan penambahan rata – rata untuk meningkatkan akurasi pengukuran.

6. Lower Limit

Untuk kasus reverberation yang sangat pendek, kurva peluruhan dapat dipengaruhi oleh filter dan detector . Forward analysis dapat dilakukan untuk menemukan lower limit yang sesuai. Lihat persamaan di bawah ini

B adalah Filter bandwidth (Hz)
T adalah Reverberation time terukur, (detik)
Tdet adalah Reverberation time, averaging detector (detik)

7. Spatial Averaging

Hasil yang diukur untuk posisi sumber dan mikrofon dapat dikombinasikan baik untuk area yang diidentifikasi terpisah atau untuk ruangan secara keseluruhan untuk memberikan nilai rata-rata spasial. Rata-rata spasial ini harus dicapai dengan rata-rata aritmatika dari reverberation time. Rata-rata spasial diberikan dengan mengambil rata-rata individual reverberation time untuk semua sumber independen dan posisi mikrofon. Deviasi standar dapat ditentukan untuk memberikan ukuran akurasi dan varians spasial dari reverberation time.

8. Parameter yang didapatkan dari Respon Impuls

Studi subjektif mengenai karakteristik akustik di sebuah auditorium telah menunjukkan bahwa beberapa parameter akustik yang didapatkan dari impuls respon berkaitan dengan aspek subjektifitas tertentu. Sementara, waktu dengung adalah satu penjelasan yang mendasar dari karakter akustik dari sebuah auditorium. Parameter yang terlampir dalam tabel di bawah ini diperoleh langsung dari mengintegrasikan respons impuls.

Tabel 4. Parameter yang berhasil didapatkan dari Respon Impuls

Berikut adalah penjelasan parameter yang terdapat pada Tabel 4

  • Sound Strength (G)

Sound Strength (G) adalah parameter yang mengukur tingkat di mana pendengar mengalami atau merasakan bunyi. G merupakan perbandingan dari energi bunyi di sebuah titik di dalam ruang dengan energi yang diukur di medan bebas dengan jarak 10m dari sumber bunyi. Parameter G menunjukkan seberapa besar level (gain) bunyi yang akan ditambahkan dalam nilai SPL kemudian dapat mengindikasikan muncul tidaknya risiko kebisingan yang dapat mempengaruhi kejelasan bunyi (Barron, 2010). Nilai G dapat dihitung menggunakan persamaan (dalam dB)

G = Kekuatan bunyi yang dirasakan pendengar
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik
p10(t) = p(t) di medan bebas berjarak 10 m

  • Early Decay Time (EDT)

EDT adalah waktu dengung yang diukur pada pengurangan bunyi pertama sebesar 10dB, diukur dengan satuan millisecond (ms) dan merupakan skala pengukuran waktu dengung ruang yang lebih detail. EDT meruapakan parameter yang bersifat fundamental untuk mengukur kualitas ruang akustik untuk musik. Nilai EDT lebih penting dan berhubungan dengan waktu dengung yang diterima oleh pendengar, sedangkan waktu dengung  memiliki hubungan dengan kondisi fisik sebuah ruang

  • C80

Clarity atau kejernihan bunyi diukur dengan membandingkan antara energi bunyi yang digunakan  (0.05 – 0.08 detik pertama setelah bunyi langsung) dengan bunyi pantulan yang datang setelahnya, dengan mengacu pada asumsi bahwa bunyi yang ditangkap pendengar dalam percakapan adalah antara 50-80 ms dan bunyi yang datang sesudahnya dianggap bunyi yang merusak. C50 lebih digunakan dalam pengukuran kualitas pidato, sedangkan C80 digunakan dalam penilaian kualitas ruang untuk fungsi musikal. Semakin tinggi nilai C, maka bunyi awal (bunyi langsung dan bunyi dari pantulan awal) mendominasi, sehingga tingkat impresi terhadap bunyi semakin tinggi . Nilai C80 dinyatakan dengan dB dan dapat dihitung dengan persamaan

Cte = Clarity
te = Batas waktu awal (50 / 80ms)
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik

  • D50

Definition (D50) merupakan rasio perbandingan antara bunyi yang terlebih dahulu dengan total energi bunyi dan diukur dengan prosentase. Parameter ini biasanya digunakan untuk menilai kejelasan suatu percakapan atau pidato (Speech). Nilai D50 yang diancurkan untuk fungsi pidato (speech) adalah >65%. Nilai D50 dapat dihitung dengan persamaan berikut

D50 = Definition
t50 = Batas waktu awal (50ms)
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik

  • Ts (Centre Time)

Centre time merupakan waktu tengah antara suara datang dan suara pantul atau bisa disebut juga pusat gravitasi dari respons impuls. Parameter ini menunjukkan tingkat kejelasan bunyi dan berkaitan dengan nilai EDT. Nilai Ts yang rendah menandakan bunyi yang jelas dam sebaliknya. Nilai Ts dinyatakan dengan ms dapat dihitung dengan persamaan:

Ts = Centre Time
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik

  • Lateral Fraction (LF)

Lateral fraction adalah rasio energi bunyi yang dipantulkan secara lateral dalam ruangan dibandingkan energi bunyi yang datang dari semua arah termasuk energi bunyi langsung dari sumbernya. Nilai LF yang baik akan diperoleh jika bunyi yang didengar oleh pendengar/penonton memiliki kekuatan yang setara antara telinga kiri dan kanan sehingga membentuk kesan stereo. Nilai LF dapat dihitung dengan persamaan

LF = Lateral Fraction
pL(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik yang diukur
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik

Geonoise Indonesia di Workshop Akustik AAVI (Asosiasi Akustik dan Vibrasi Indonesia) – Prediksi Kebisingan di Perkotaan

By | Articles, News

Asosiasi Akustik dan Vibrasi Indonesia (AAVI) pada tanggal 5 dan 6 Agustus 2019 mengadakan workshop yang bertajuk “Workshop on Acoustics Technology for Industry and Professionals”. Workshop ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai teknologi akustik terkini untuk para praktisi di industri dan juga professional yang bekerja pada bidang yang berkaitan dengan akustik.

Pada acara ini, Geonoise Indonesia berkesempatan untuk memberikan kontribusi dengan menjadi pembicara pada acara tersebut. Salah satu engineer Geonoise Indonesia, Hizkia Natanael, mengisi sebuah sesi yang diberi judul “Urban Noise Predictions: Why and How We Do It”. Kesempatan ini kami gunakan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kami mengenai kalkulasi kebisingan di perkotaan, terutama dari sudut pandang praktisi.

Hal yang pertama dibahas yakni mengenai mengapa kebisingan di perkotaan perlu untuk diprediksi. Sedikitnya terdapat dua alasan yang berhubungan dengan hal ini. Pertama, kebisingan memiliki dampak yang buruk pada kesehatan dan kesejahteraan publik. Karena hal inilah, kebisingan perlu diperhitungkan pada tahap perencanaan sebuah kegiatan ataupun proyek, sehingga kebisingan dapat berada pada tingkat yang dapat diterima oleh publik. Oleh karena hal inilah, terdapat alasan kedua yaitu agar memenuhi persyaratan yang ditentukan regulasi. Regulasi terkait kebisingan dibuat agar kebisingan yang diterima publik memiliki dampak yang masih terkontrol.

Regulasi terkait kebisingan dapat digolongkan menjadi dua yaitu immission dan emission. Regulasi yang digolongkan sebagai immission adalah regulasi yang mengatur seberapa banyak kebisingan boleh diterima oleh penerima bising. Di Indonesia, salah satu contoh dari regulasi ini adalah KepMen LH No. 48 Tahun 1996 tentang baku mutu kebisingan. Pada keputusan ini, tingkat kebisingan diatur baku mutunya untuk setiap jenis kawasan. Misalnya, pada kawasan pemukiman, kebisingan maksimal adalah Lsm < 55 dBA dengan toleransi 3 dB (tingkat kebisingan siang malam, dengan penalti 5dB pada malam hari).

Kategori lainnya yaitu regulasi terkait emisi kebisingan adalah regulasi yang mengatur seberapa banyak kebisingan boleh diemisikan oleh sumber kebisingan. Contoh dari regulasi ini di Indonesia adalah PerMen LH No.7 tahun 2009 tentang ambang batas kebisingan kendaraan bermotor tipe baru. Pada peraturan ini, setiap kendaraan motor tipe baru harus diuji emisi kebisingannya dengan metoda yang diatur pada PerMen yang sama.

Pada bagian kedua dari sesi ini, kami berbagi mengenai metoda yang biasa digunakan oleh praktisi untuk memprediksi kebisingan di perkotaan. Standar kalkulasi kebisingan yang biasa digunakan terbagi menjadi dua yaitu emisi dan propagasi. Pada kalkulasi emisi, tingkat daya suara dari sumber kebisingan dihitung berdasarkan karakteristik sumber bunyi tersebut. Misalkan untuk menghitung emisi bising dari jalan raya, dibutuhkan data mengenai jumlah kendaraan, kecepatan kendaraan, jenis kendaraan yang melewati jalan tersebut dan sebagainya. Pada standar perhitungan propagasi, dihitung kebisingan yang diterima oleh penerima kebisingan karena propagasi suara dari sumber.

Pada kesempatan ini juga kami membuat sebuah “study case” jika akan dibangun rel kereta layang pada jalan Dago di Bandung. Kami menggunakan software SoundPLAN 8.1 untuk memprediksi kebisingan yang diterima oleh salah satu rumah sakit pada jalan tersebut.

Selain dari Geonoise Indonesia, pembicara pada acara ini adalah:

  • Prof Jeong-Guon Ih dari Korea Advanced Institute of Science and Technology. Prof Ih pada kesempatan kali ini berbicara mengenai beberapa topik terkait noise control yaitu “Noise Control Design and Analysis”, “Panel damping to reduce noise radiation” dan case study noise control pada produk hair dryer yang beliau kerjakan.
  • Prof David Herrin, Director dari The Vibro-Acoustics Consortium yang juga professor di University of Kentucky. Prof Herrin menjadi pembicara pada sesi “Basics of sound and noise”, “Design of silencers to reduce duct-borne noise”, dan “measurements and instrumentation in Acoustics and Vibration”
  • Prof Youngjin Park, Director dari Center for Noise and Vibration Control (NOVIC), KAIST. Prof Park membagikan mengenai active noise control.
  • Prof Benjamin Soenarko, President dari Asosiasi Akustik dan Vibrasi Indonesia (AAVI). Beliau berbicara mengenai metoda numerik di akustik, terutama Boundary Element Method.
  • Dr Joko Sarwono, Kelompok Keahlian Fisika Bangunan Institut Teknologi Bandung. Pak Joko Sarwono pada kesempatan ini berbagi mengenai Soundscape.
Penghargaan dari AAVI 2019

Kebisingan Pada Sistem HVAC

By | Articles

Salah satu hal yang menjadi masalah tak terduga suatu bangunan berkaitan dengan sistem HVAC adalah kebisingan yang ditimbulkannya. Penghitungan kebisingan hasil dari akumulasi bagian-bagian dari sistem HVAC sangat diperlukan, agar tidak terjadi kebisingan di ruangan-ruangan yang diinginkan.

Apa yang perlu diperhatikan dalam mendesain sistem HVAC?

Apakah ada langkah singkat untuk menghindarinya?

Dalam artikel ini akan dibahas secara singkat terkait kebisingan yang terjadi pada system HVAC  dan bagaimana menghindarinya. 

Setiap suara yang terdengar biasanya dapat diidentifikasi melalui range frekuensi kebisingannya, begitupun dengan kebisingan yang berasal dari sistem HVAC. Kebisingan yang berkaitan dengan sistem HVAC dibagi menjadi 3 cakupan frekuensi, yaitu:

  • Frekuensi rendah

Kebisingan dari Fan, secara umum cakupannya adalah pada frekuensi 16 Hz hingga 250 Hz;

Variable Air Volume (VAV) Box Noise pada range frekuensi 125 Hz hingga 500 Hz.

  • Frekuensi menengah

Airflow ataupun kebisingan hasil turbulensi yang terjadi pada duct berkisar pada range frekuensi 31.5 Hz – 1000 Hz.

  • Frekuensi tinggi

Kebisingan Damper dan diffuser yang memberikan kebisingan pada range frekuensi 1000 Hz – 4000 Hz.

Ketiga kategori yang telah dijelaskan di atas dapat dihindari dengan mengetahui dari mana saja kebisingan tersebut berasal sehingga dapat menjadi perhatian lebih ketika mendesain saluran duct, seperti bentuk duct dan material yang dipakai pada setiap komponen sistem HVAC. Banyak cara agar suara dari sumber tertentu menjalar ke suatu area atau tempat, namun secara garis besar kebisingan pada sistem HVAC menjalar melalui 5 hal, diantaranya:

Sistem HVAC Acoustic – GeoNoise Indonesia
  • Ductborne Noise

Ductborne Noise berasal dari suara fan yang menjalar di sepanjang duct baik upstream maupun downstream terhadap arah arus fan. Penjalaran terjadi dengan mudah dan cepat karena kecepatan suara lebih cepat dari kecepatan udara dalam duct itu sendiri. Noise menjalar melalui saluran duct dan memberi kebisingan pada ruangan penerima, baik lokasi supply maupun return air.

  • Radiated Equipment Noise

Radiated equipment noise atau kebisingan yang berasal dari radiasi peralatan bising HVAC terjadi melewati lantai, atap ataupun dinding. Hal ini menjadikan suara bising terdengar pada ruangan sekitarnya. Contohnya, ketika pemasangan unit HVAC berada di samping ruang kerja, dengan sistem insulasi suara dinding pemisah yang kurang baik, maka suara unit HVAC akan menembus dinding dan terdengar di ruang kerja maupun di ruang sekitar unit HVAC.

  • Duct Break-in Noise

Kebisingan yang bersumber dari Ceiling Plenums atau dari perangkat Air Conditioning, ruang pemasangan dan sumber bising lainnya, akan menembus saluran duct dan kemudian menjalar menuju ruangan bersamaan dengan arus pada saluran duct. Jadi jika dimungkinkan, hindari duct melalui area bising sehingga tidak ada kebisingan yang masuk ke dalam system duct, atau jika ditinjau dari duct, hindari penggunaan material duct ringan dengan kemampuan insulasi yang rendah jika melewati ruangan-ruangan yang bising.

  • Duct Break-out Noise

Kebisingan juga dapat keluar dari dalam saluran duct lewat perimeter duct itu sendiri, hal ini akan memberikan kebisingan pada ruangan atau area sekitar duct tersebut. Umumnya hal ini terjadi dari suara bising fan, kebisingan aerodinamis (regenerated noise) di dalam duct, dan turbulensi airflow yang menyebabkan duct bergetar dan menghasilkan suara gaduh yang meradiasikan frekuensi rendah airborne noise.

  • Terminal Noise

Bagian akhir dari rantai distribusi udara pada system HVAC adalah perangkat terminal air yang diantaranya mencakup grille, diffuser, register, dan vent cover yang terbuka langsung terhadap ruang penerima. Kebisingan yang melewati diffuser dan perangkat transisi ini akan bertambah pada ruang penerima jika terdapat kemungkinan bergetar ataupun pertemuan dua arah arus udara yang berbeda. Untuk permasalahan ini yang dibutuhkan adalah penggunaan peralatan dengan spesifikasi yang baik untuk perangkat pada supply dan juga return serta desain pembelokan duct yang kurang baik. Untuk memudahkan biasanya beberapa manufaktur memberikan kode rating NC (Noise Criteria) pada perangkatnya, pilihlah sesuai dengan kebutuhan NC ruangan.

Dengan mengetahui kelima cara kebisingan tercipta, kita dapat dengan mudah mengkategorikan kebisingan pada system HVAC yang akan kita buat. Hal ini akan membantu menuntun kita dalam hal pemilihan material duct, sistem percabangan duct, enclosure unit Air Conditioning, tipe duct dan lain sebagainya sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan bising yang akan terjadi.

Merasa Tidak Produktif? Anda Mungkin Mengabaikan Faktor Ini!

By | Uncategorized
Tidak produktif saat bekerja

Kami percaya bahwa cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas adalah kemampuan untuk masuk ke sebuah kondisi yang disebut monoideal. Josh Kaufman dalam bukunya yang berjudul “The Personal MBA” mengatakan,

Monoidealism is the state of focusing your energy and attention only on one thing. It’s often called a ‘flow’ state: clear, focused attention on one subject for a long period of time.”

Yang jika diterjemahkan menjadi, “Monoidealisme adalah keadaan memfokuskan energi dan perhatian Anda hanya pada satu hal. Hal ini dapat juga disebut kondisi ‘mengalir’: perhatian terfokus dengan jelas pada satu subjek untuk jangka waktu yang lama.”

Agar hal ini bisa terjadi, kita harus menghilangkan potensi-potensi gangguan yang dapat terjadi. Contohnya, sebagian orang memilih untuk bekerja sangat awal di pagi hari atau larut malam demi terciptanya produktivitas tinggi – karena pada hari-hari biasa, tidak akan ada yang menelepon dan mengganggu Anda pada jam 4 pagi.

Namun, kebanyakan dari kita bekerja di kantor yang beroperasi di jam kerja pada umumnya (bukan jam-jam sunyi bebas gangguan). Kabar baiknya, kita masih dapat mengelola potensi gangguan kita dengan mengetahui apa yang paling mengganggu kita di waktu kerja normal tersebut. Anda dapat mencoba mengalokasikan waktu untuk masuk pada kondisi monoideal dengan cara membebaskan diri dari gangguan selama waktu tersebut. Misalnya, Anda dapat mengaktifkan mode penerbangan pada ponsel Anda dan mematikan notifikasi email dari jam 8 pagi hingga jam 11 siang. Kemudian Anda dapat mulai memeriksa email serta berkomunikasi dengan orang lain dan rekan-rekan Anda dari jam 11 siang hingga waktu makan siang. Pilihan waktu tersebut tentunya akan sangat tergantung pada jenis pekerjaan yang Anda lakukan dan juga berapa banyak waktu yang Anda perlukan untuk berada dalam kondisi monoideal.

Renovasi gedung di jam kerja

Dalam melakukan pengelolaan waktu tersebut, sayangnya terdapat hal-hal yang di luar kendali Anda, misalnya pekerjaan renovasi gedung di lantai atas, rekan kerja Anda yang sedang sing along dengan lagu yang ia dengarkan, orang-orang di ruangan sebelah tertawa keras (mungkin mereka sedang membicarakan bos mereka?), dan lain-lain. Jika bukan gangguan yang muncul di depan mata Anda, seperti notifikasi yang muncul di layar Anda, sebagian besar gangguan yang datang muncul dalam bentuk suara, atau mungkin lebih baik jika kita sebut “kebisingan”.

Kebisingan adalah pembunuh produktivitas yang mungkin Anda abaikan – terutama jika Anda telah sukses melewati tahap teralihkan perhatiannya oleh telepon Anda, bermain Facebook di komputer Anda dan melihat video kucing di Youtube. Untungnya, kebisingan dapat dikelola dengan beberapa cara. Pilihan yang paling mudah untuk perkantoran dan tempat bekerja adalah membuat peraturan terkait kebisingan dan membuat semua orang sadar bahwa kebisingan dapat mengurangi produktivitasnya dan rekan-rekannya. Sebagai contoh, perusahaan dapat membuat peraturan bahwa pekerjaan renovasi bangunan, bernyanyi dan bergosip harus dilakukan di luar jam kantor. Cara lain adalah dengan memisahkan area untuk orang yang ingin fokus dan area untuk orang dapat bersosialisasi dan berdiskusi dengan rekan kerja mereka.

Cara terbaik untuk mengelola kebisingan?

Ada, yaitu dengan mempertimbangkan kebisingan dari awal proses desain ruang kerja. Ini bisa menjadi proses yang panjang dan kompleks di mana ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan dalam merancang kantor yang ideal. Dibutuhkan keseimbangan antara keindahan visual, filosofi perusahaan, fungsionalitas, kesehatan, keselamatan dan semua aspek lain yang ingin kita perhitungkan. Sering kali, semua aspek itu akan berhubungan dengan kebisingan atau akustik dalam beberapa hal, tergantung pada kasusnya yang selalu unik dan berbeda.

Bagi kami, pekerja di bidang akustik, berikut ini adalah hal-hal yang biasanya kami pikirkan ketika membantu orang lain merancang ruang kerja mereka (dan lingkungan buatan lainnya):

  • Ambient noise: Kami ingin tingkat kebisingan di dalam ruang kerja berada pada rentang yang dikehendaki. Kebisingan dari luar seperti lalu lintas, kereta api, pesawat terbang dan gedung tetangga (sistem mekanik tetangga bisa jadi cukup mengganggu), atau kebisingan dari dalam bangunan seperti sistem HVAC dan lift perlu untuk dikontrol.
  • Insulasi suara: Kami tidak ingin mendengar suara yang tidak ingin kami dengar dari ruang sebelah, atas atau bawah. Dengan mendesain sistem plafon, lantai, dan dinding yang sesuai, isolasi suara yang cukup dapat dicapai.
  • Akustik ruang: Kami ingin dapat mendengarkan dengan nyaman dan memahami informasi verbal yang kami inginkan. Ini sangat penting terutama di ruang pertemuan dan auditorium.
  • Sistem pengeras suara dan sistem Public Address: Kami ingin sistem penguatan suara dan public address dapat didengar dengan jelas tanpa mengganggu orang lain yang tidak ingin mendengarnya.

Semua hal di atas juga bisa dilakukan setelah gedung dan ruang kerja dibangun. Tetapi jika dilakukan sebelum dibangun, Anda akan memiliki lebih banyak opsi dan efisien secara biaya daripada mengubah apa yang sudah dibangun.

Jadi, jika Anda adalah orang yang sangat produktif, atau jika Anda ingin mencapai fokus yang tinggi saat bekerja, kami sarankan Anda mempertimbangkan aspek kebisingan dalam memilih ruang tempat Anda bekerja.