hong-kong-1990268_1920

Mengapa kebisingan lingkungan perlu diukur?

Terdapat banyak alasan dibalik mengapa kebisingan lingkungan perlu diukur. Misalkan untuk menentukan apakah sebuah aktivitas cukup mengganggu dalam perspektif kebisingan. Aktivitas itu dapat berupa lalu lintas, perdagangan, konser musik, kegiatan industri dan sebagainya. Jika aktivitas tersebut ternyata cukup mengganggu, maka yang merasa terganggu bisa meminta pertanggung jawaban kepada yang melakukan aktivitas yang mengganggu tersebut.

Akan tetapi, perkara mengganggu atau tidaknya sebuah aktivitas ditinjau dari sisi kebisingan bisa sangat subjektif. Bisa saja orang yang terganggu merasa aktivitas tersebut mengganggu, sedangkan orang yang melakukan aktivitas tersebut berpendapat bahwa aktivitas tersebut tidak mengganggu. Oleh sebab itu, dibutuhkan sesuatu yang objektif dan absolut untuk menentukan hal tersebut.

 Berbagai institusi telah menetapkan standar kebisingan yang mempertimbangkan kenyamanan dan kesehatan publik. Di Indonesia, baku tingkat kebisingan diatur oleh KepMen LH No.48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Pada peraturan tersebut, ditentukan tingkat kebisingan pada berbagai peruntukan kawasan. Misalkan pada perumahan dan pemukiman, nilai baku tingkat kebisingannya adalah 55 dBA dengan toleransi +3 dBA. Berikut adalah kawasan dan baku tingkat kebisingan yang ditentukan KepMen LH tersebut

Peruntukan Kawasan:

  1. Perumahan dan pemukiman
  2. Perdangan dan Jasa
  3. Perkantoran dan Perdagangan
  4. Ruang Terbuka Hijau
  5. Industri
  6. Pemerintahan dan Fasilitas Umum
  7. Rekreasi
  8. Bandara/Stasiun Kereta Api/Pelabuhan Laut
  9. Cagar Budaya
  10. Rumah Sakit atau sejenisnya
  11. Sekolah atau sejenisnya
  12. Tempat ibadah atau sejenisnya
 

Tingkat kebisingan (dBA):

  1. 55
  2. 70
  3. 65
  4. 50
  5. 70
  6. 60
  7. 70
  8. 70
  9. 60
  10. 55
  11. 55
  12. 55

Karena nilai pengukuran akan dibandingkan dengan baku tingkat kebisingan, maka sangat penting bahwa pengukuran menunjukkan nilai yang benar. Oleh karena itulah peralatan yang digunakan harus memenuhi standar tertentu (misalkan Class 1, Class 2) dan juga terkalibrasi dengan baik. Jika peralatan yang digunakan tidak dapat dipercaya, lalu misalkan nilai terukur adalah 58.5 dBA di pemukiman, apakah kemudian hasil pengukuran tersebut cukup kuat agar pihak yang terganggu dapat meminta pertanggung jawaban pada pihak yang melakukan aktivitas mengganggu?

Oleh karena itulah pada pengukuran kebisingan, diperlukan konsultan independen yang memiliki peralatan pengukuran akustik yang memenuhi standar dan terkalibrasi dengan baik.