
Sudahkah hospitality industry Anda mempertimbangkan kenyamanan akustik?

Sudahkah hospitality industry Anda mempertimbangkan kenyamanan akustik?

Jakarta, ibu kota Indonesia, adalah rumah bagi 10 juta penduduk Indonesia. Baru-baru ini pemerintah Indonesia digugat oleh sekelompok aktivis dan pencinta lingkungan karena kualitas udara yang tidak sehat di Jakarta. Penggugat berharap bahwa melalui gugatan tersebut, pemerintah Indonesia dapat meningkatkan kebijakan yang ada untuk mengatasi masalah polusi udara.
Pada 18 Juli, menurut AirVisual, layanan pemetaan polusi udara yang berpusat di Swiss, Indeks Kualitas Udara/Air Quality Index (AQI) Jakarta adalah 153, dikategorikan sebagai tidak sehat dan dapat menyebabkan peningkatan pembengkakan jantung dan paru-paru. Rekomendasi untuk kondisi ini adalah mengenakan masker dan menggunakan pembersih udara/air purifier di dalam ruangan. AQI Mengukur lima kriteria polutan udara (partikel, sulfur, dioksida, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan ozon), dan mengubah konsentrasi polutan yang terukur di udara komunitas menjadi angka pada skala 0 hingga 500.

Jakarta adalah salah satu aglomerasi perkotaan terbesar di dunia. Peningkatan populasi perkotaan yang tidak terkendali sebanding dengan jumlah kendaraan di Jakarta. Menurut Badan Pusat Statistik (Statistik Indonesia), pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta adalah 5,35% setiap tahun, di sisi lain, pertumbuhan ini akan meningkatkan jumlah polusi di Jakarta. Pernyataan ini didukung oleh penjabat kepala Badan Lingkungan Hidup Jakarta, Andono Warih, 80 persen penyebab polusi udara di ibu kota ialah emisi kendaraan bermotor.
Sebetulnya, warga Jakarta dapat berkontribusi langsung untuk mengatasi masalah polusi udara. Menggunakan Transportasi umum adalah cara ramah lingkungan untuk bepergian. Karena transportasi umum membawa banyak penumpang hanya dengan satu kendaraan, sehingga dapat mengurangi jumlah kendaraan serta mengurangi jumlah emisi dari transportasi di daerah perkotaan yang padat. Lebih jauh, transportasi umum dapat membantu Jakarta untuk mengurangi kabut asap, untuk memenuhi standar kualitas udara dan untuk mengurangi risiko kesehatan dari kualitas udara yang tidak sehat.
Sistem transportasi perkotaan di Indonesia terdiri dari angkutan perkotaan, bus, kereta/kendaraan berbasis rel dan feri. Khususnya di Jakarta, transportasi berbasis rel perkotaan, seperti Kereta Commuter Line, Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT), menyediakan mobilitas dan akses ke daerah perkotaan.

Fase pertama MRT Jakarta (MRT-J) telah beroperasi sejak Maret 2019. Dalam operasi sehari-hari, kereta berjalan dari Stasiun Grab Lebak Bulus hingga Stasiun Bundaran HI. Ada 13 stasiun di sepanjang rel; stasiun underground adalah Bundaran HI, Dukuh Atas BNI, Setiabudi Astra, Bendungan Hilir, Istora Mandiri, dan Stasiun Senayan. Sementara itu, stasiun overground adalah ASEAN, Blok M, Blok A, Haji Nawi, Cipete Raya, Fatmawati, dan Stasiun Grab Grab Lebak Bulus. MRT-J hanya memerlukan 30 menit untuk melakukan perjalanan sepanjang 16 kilometer, mulai dari Stasiun Lebak Bulus Grab di Jakarta Selatan ke Stasiun Bundaran HI di Jakarta Pusat.
Ada 16 jalur kereta yang tersedia untuk membawa para penumpang berkeliling. Berdasarkan situs MRT-J, Dalam operasi hari kerja, kereta beroperasi pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB dengan total 285 perjalanan. Sementara itu, dalam operasi akhir pekan, kereta berjalan pada jam yang sama dengan total 219 perjalanan.
Selama operasi promo (1 April – 12 Mei), rata-rata jumlah penumpang harian mencapai 82.643, sedangkan setelah tarif penuh diberlakukan, jumlah penumpang rata-rata per hari adalah 81.459.
Gambar-gambar berikut merupakan pemandangan yang akan Anda alami apabila berkendara menggunakan dari MRT Jakarta.






Jadi bagaimana menurut Anda? Sudahkah Anda mencoba menggunakan MRT Jakarta? Jika belum pernah, coba segera dan rasakan sensasi berbeda dari Angkutan Umum di Indonesia.
Selanjutnya, melalui artikel ini, saya ingin mengundang Anda, menjelajahi MRT Jakarta melalui perspektif yang berbeda, yang mungkin bagi sekelompok orang metode ini masih jarang digunakan, suara.
Apakah Anda menyadari bahwa suara dapat memberi tahu kita tentang karakter, tempat, dan waktu? Kadang-kadang, suara memberi tahu kita dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh visual, dan itu adalah ide tentang apa yang akan saya lakukan sekarang. Selanjutnya, Anda akan mendengar, file rekaman suara MRT-J ketika sedang beroperasi.
Suara direkam dengan metode soundwalk, setiap perjalanan yang tujuan utamanya adalah mendengarkan dengan saksama keadaan lingkungan sekitar. Metode ini memaparkan telinga kita pada setiap suara di sekitar kita di mana pun kita berada. Kita mungkin berada di rumah, berjalan di seberang jalan pusat kota, atau bahkan di kantor. Sementara itu, dalam hal ini, lingkungan yang menjadi objek adalah MRT Jakarta. Tujuannya untuk menangkap semua sumber suara yang ada selama pengoperasian MRT-J, termasuk aktivitas para penumpang.
Suara direkam dengan menggunakan mikrofon yang terpasang di iPhone X pada level 1,2 m di atas tanah. Suara berikut adalah suasana yang direkam saat MRT-J beroperasi dari Stasiun Bundaran HI ke Stasiun Setiabudi Astra, durasi rekaman suara adalah 4 menit dan 40 detik. Silakan gunakan earphone atau perangkat serupa untuk mendengarkan audio untuk pengalaman yang lebih baik.
Setelah mendengarkan rekaman suara tersebut, dapatkah Anda mengidentifikasi sumber suara yang hadir di dalam rekaman? Berikut adalah sumber suara yang berhasil saya identifikasi:
Sekarang kita telah mengidentifikasi sumber suara yang disajikan dalam rekaman. Tapi, tahukah Anda berapa besar desibel yang harus saya tahan saat berkendara menggunakan MRT-J? Dalam artikel ini, pengukuran manual tingkat kebisingan dilakukan dengan Sound Level Meter di MRT Jakarta. Pengukuran tingkat suara dengan pembobotan A direkam langsung dari satu stasiun ke stasiun berikutnya selama waktu antara pukul 08:00 – 09:00, menggunakan mikrofon yang dikalibrasi dengan ketinggian 1,2 m di atas tanah. Hasil dari tingkat kebisingan kontinu dengan pembobotanA Leq (LAEq) di MRT-J dari satu stasiun ke stasiun berikutnya ditunjukkan pada Bagan 1.

LAEq adalah energi pembobotan A dari tingkat kebisingan rata-rata selama periode pengukuran. Hasil dari pengukuran menunjukkan bahwa tingkat kebisingan berbobot A bervariasi antara 77 dB hingga 82 dB. Lebih jauh, jika kita amati lebih teliti, tingkat kebisingan terukur berfluktuasi. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti:
Selain itu, tingkat kebisingan yang ditampilkan pada Bagan 1 dapat merepresentasikan keadaan yang cukup bising. The National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, menyatakan bahwa paparan suara yang panjang atau berulang pada atau di atas 85 dB dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Jadi, berdasarkan hasil pengukuran, saya menyarankan Anda memakai pelindung telinga saat berkendara menggunakan MRT-J. Earplug adalah salah satu peralatan yang bisa kita gunakan untuk melindungi pendengaran kita; Anda hanya perlu menyisihkan beberapa ribu rupiah untuk ini. Mengenakan earplug dapat membantu Anda mengurangi kebisingan hingga 18 – 34 dB, tergantung pada model / merek.
Untuk hasil pengukuran yang lebih akurat, kita perlu melakukan pengukuran yang lebih kompleks, seperti:
Meskipun demikian, gagasan melakukan pengukuran ini adalah untuk menyebarkan kesadaran akan kebisingan. Kebisingan melekat di sekitar Anda, bahkan suara umum yang Anda dengar di tempat kerja atau di rumah dapat berkontribusi untuk gangguan pendengaran jangka panjang dan risiko kesehatan lainnya, kebisingan ada di mana-mana, tetapi hanya beberapa orang yang menyadarinya. Polusi suara adalah ancaman kesehatan yang tidak dibicarakan oleh banyak orang. Berikut adalah beberapa parameter untuk membantu Anda menentukan tingkat kebisingan yang berada dalam kategori aman sampai berbahaya:
Setiap orang perlu menjaga telinga dan pendengaranya, karena kerusakan pada sistem pendengaran tidak dapat diperbaiki. Kerugian karena paparan kebisingan akan dialami secara bertahap. Anda mungkin tidak melihat tanda-tandanya, atau Anda mengabaikannya sampai akhirnya tanda – tanda kerusakan pendengaran bisa dirasakan lebih jelas.
Tolong lindungi pendengaran Anda.
Referensi:
Afifa, L. (2019). Jakarta Air Pollution Mostly Caused by Motorized Vehicles: Agency. [online] Tempo. Available at: https://en.tempo.co/read/1214627/jakarta-air-pollution-mostly-caused-by-motorized-vehicles-agency [Accessed 2 Oct. 2019].
Jakarta.bps.go.id. (2019). BPS Provinsi DKI Jakarta. [online] Available at: https://jakarta.bps.go.id/publication/2018/10/03/cb1285d8dbe8be8754a5830d/statistik-transportasi-dki-jakarta-2018.html [Accessed 2 Oct. 2019].
Dsikowitzky, L., van der Wulp, S., Dwiyitno, Ariyani, F., Hesse, K., Damar, A. and Schwarzbauer, J. (2018). Transport of pollution from the megacity Jakarta into the ocean: Insights from organic pollutant mass fluxes along the Ciliwung River. Estuarine, Coastal and Shelf Science, 215, pp.219-228.
Fink, D. (2017). What Is a Safe Noise Level for the Public?. American Journal of Public Health, 107(1), pp.44-45.
Goldthwaite, J. (2019). Noise is everywhere. How to deal with it? Does it create a dangerous environment?. [online] Sensear.com. Available at: https://www.sensear.com/blog/noise-is-everywhere-how-to-deal-with-it-does-it-create-a-dangerous-environment [Accessed 2 Oct. 2019].
Lamb, K. (2019). Jakarta residents to sue government over severe air pollution. [online] the Guardian. Available at: https://www.theguardian.com/world/2019/jul/02/jakarta-residents-to-sue-government-over-severe-air-pollution [Accessed 2 Oct. 2019].
Nationalexpresstransit.com. (2019). Why is Public Transportation Good for the Environment?. [online] Available at: https://www.nationalexpresstransit.com/blog/why-is-public-transportation-good-for-the-environment/ [Accessed 2 Oct. 2019].
Situmorang, S. and Situmorang, S. (2019). Indonesia: accelerating urban transportation development with public-private partnership. [online] The Business Times. Available at: https://www.businesstimes.com.sg/asean-business/indonesia-accelerating-urban-transportation-development-with-public-private [Accessed 2 Oct. 2019].
Support.airvisual.com. (2019). What is AQI?. [online] Available at: http://support.airvisual.com/knowledgebase/articles/1185775-what-is-aqi [Accessed 2 Oct. 2019].
Westerkamp, Hildegard (1974). “Soundwalking”. Sound Heritage
Women’s Health. (2019). Noise Pollution Is The Biggest Health Threat Nobody Is Talking About. [online] Available at: https://www.womenshealthmag.com/health/a19599097/noise-pollution/ [Accessed 2 Oct. 2019].
Waktu dengung merupakan salah satu parameter yang sering digunakan untuk mengetahui kualitas akustik sebuah ruangan. Seperti yang kita ketahui, kualitas akustik ini akan bergantung pada fungsi ruangannya apakah akan digunakan untuk speech atau music. Contohnya untuk fungsi speech, ketika sebuah ruang menghasilkan waktu dengung yang terlalu panjang, maka kejelasan bunyi akan tertupi oleh oleh pantulan bunyi itu sendiri. Sedangkan, untuk fungsi musik, waktu dengung dapat menambah ketertarikan akan bunyi sehingga bunyi yang dihasilkan oleh alat musik terkesan hidup. Waktu dengung atau Reverberation Time (RT60) merupakan waktu yang dibutuhkan sebuah bunyi untuk meluruh sebesar 60dB sejak bunyi dihasilkan. Waktu dengung dapat diprediksi dengan menggunakan formula Sabine
RT60 = 0,161V / Sα
RT60: Waktu dengung
V: Volume ruang
S: Luasan area
α: Rata-rata koefisien serap ruang
Sα: Total penyerapan ruang dalam “Sabine”
Nilai waktu dengung yang ideal akan bergantung kepada fungsi dan besar volum dari ruangan itu sendiri. Semakin besar volum ruangan, maka kebutuhan akan waktu dengung juga semakin panjang. Berikut adalah rekomendasi nilai waktu dengung untuk beberapa jenis ruangan.

Pada praktik pengukuran waktu dengung, umumnya suara yang dihasilkan dari sumber bunyi sangat sulit untuk mencapai 60dB di atas background noise level (tingkat bising latar belakang) dalam ruangan. Untuk itu digunakan beberapa metode untuk mendekati waktu dengung dengan cara mengambil data peluruhan selama beberapa dB kemudian diekstrapolasi hasilnya sehingga mencapai 60dB. Berikut adalah parameter pendekatan yang dimaksud:
Lalu bagaimana cara untuk melakukan pengukuran parameter – parameter akutik tersebut? Dalam artikel ini, saya akan memberikan penjelasan singkat mengenai pengukuran parameter akustik untuk performance space berdasarkan ISO 3382:1.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengetahui apa saja peralatan yang diperlukan untuk mendapatkan parameter yang dimaksud. Peralatan yang dipergunakan memiliki spesifikasi khusus. Berikut adalah peralatan yang diperlukan dalam pengukuran waktu dengung beserta penjelasannya.
a. Sumber Suara
Sumber suara harus memiliki karakteristik sedekat mungkin dengan karaketeristik omnidirectional sound source.

Sumber suara tersebut harus menghasilkan tingkat tekanan suara/ Sound Pressure Level (SPL) yang cukup kuat untuk mendapatkan kurva peluruhan dengan rentang dinamis minimum yang diperlukan, tanpa kontaminasi/gangguan/intervensi dari kebisingan latar belakang (background noise). Untuk pengukuran respons impuls menggunakan pseudo-random sequences, SPL yang diperlukan mungkin cukup rendah, karena peningkatan dari signal-to-noise ratio oleh means of synchronous averaging. Sedangkan dalam pengukuran tanpa menggunakan synchronous averaging teknik (metode lain), SPL yang diperlukan setidaknya lebih tinggi 45dB di atas Background Noise dalam pita frekuensi yang sesuai. Namun apabila hanya parameter T20 yang akan diukur, maka, SPL yang diperlukan setidaknya lebih tinggi 35 dB di atas Background Noise.
b. Microphones, recording and analysis equipment
Dalam pengukuran waktu dengung, jenis mikrofon yang digunakan adalah omnidirectional. Mikrofon dapat dihubungkan melalui
Microphone and Filter
Peralatan pengukuran harus memenuhi persyaratan instrumen/alat ukur tingkat bunyi (mikrofon) class-1 berdasarkan IEC 61672-1. Mikrofon harus memiliki ukuran sekecil mungkin,
Selain itu, filter oktaf atau sepertiga oktaf yang digunakan harus sesuai dengan IEC 61260.
Jika peluruhan suara pada awalnya direkam menggunakan magnetic tape atau alat perekam digital, maka kontrol penguat otomatis atau sirkuit lain yang digunakan untuk optimasi dinamis untuk signal-to-noise ratio tidak boleh digunakan. Waktu perekaman setiap peluruhan harus cukup lama untuk mendapatkan tingkat background level setelah peluruhan; waktu perekakaman minimum yang direkomendasikan adalah lima detik ditambah waktu dengung yang diharapkan.
Untuk kombinasi perekaman dan playback speeds yang digunakan, maka alat perekam harus memiliki karakteristik di bawah ini:
Pelengkap atau “tools” yang digunakan untuk menampilkan dan/atau mengevaluasi peluruhan pada saat perekaman/pengambilan data:
Averaging time/waktu rata – rata yaitu waktu konstan dari sebuah perangkat rata – rata eksponensial, dengan nilai harus kurang dari, namun mendekati T/30. Demikian pula dengan averaging time dari linear averaging device harus kurang dari T/20. Di mana T merupakan reverberation time terukur.
Apabila perekaman peluruhan ditampilkan dalam bentuk discrete point, maka interval berada diantara point perekaman (harus lebih kecil dari 1,5 kali averaging time dari alat perekam).
Ketika peluruhan akan dievaluasi dalam bentuk visual, sesuaikan skala waktu pada display sehingga kemiringan yang ditampilkan mendekati sudut 45° .
2. Posisi Pengukuran
Posisi sumber suara pengukuran harus di tempatkan sesuai dengan sumber suara alami berada. Dalam pengukuran ini, minimal dua posisi sumber suara dibutuhkan dengan ketinggian 1,5 m di atas lantai.
Posisi mikrofon harus berada pada area yang mewakili posisi pendengar berada. Penentuan posisi mikrofon, pada pengukuran reverberation time/waktu dengung merupakan hal yang sangat penting. Disarankan bahwa, penentuan posisi mikrofon harus mewakili pengukuran sampel seluruh ruang.
Posisi antar mikrofon setidaknya harus setengah kali dari panjang gelombang, sekitar 2 m untuk rentang frekuensi yang biasa digunakan. Sedangkan, jarak mikrofon ke permukaan bidang pantul, termasuk lantai, setidaknya harus berjarak seperempat kali dari panjang gelombang atau sekitar 1 m. Posisi mikrofon tidak boleh terlalu dekat dengan posisi sumber apa pun, untuk menghindari pengaruh dari suara langsung. Pengukuran di ruangan untuk fungsi pidato/bicara (speech) dan musik, ketinggian mikrofon di atas lantai harus 1,2 m, sesuai dengan tinggi telinga pendengar rata-rata ketika duduk di atas kursi.
Distribusi posisi mikrofon perlu memperhatikan geometri ruangan agar dapat mengantisipasi pengaruh besar pada perbedaan waktu dengung di seluruh ruangan. Contohnya, area khusus seperti tempat duduk dekat dengan dinding, di bawah balkon atau di ruang-ruang yang dipisahkan (seperti church transepts). Maka, hal Ini membutuhkan penilaian atas pemerataan distribusi “akustik” ke area tempat duduk yang khusus. Sehingga, untuk pengukuran waktu dengung, akan diperlukan penilaian ruangan terhadap kriteria berikut (yang dalam banyak kasus hanya akan memerlukan penilaian visual) untuk menentukan apakah single spatial averages (nilai rata-rata matematika lebih dari beberapa titik dalam ruang) akan cukup menggambarkan ruangan, berikut adalah hal – hal yang perlu diperhatikan dalam menilai suatu ruangan:
3. Prosedur Pengukuran
Berdasarkan ISO 3382, pengukuran reverberation time dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu metode integrated impulse response dan interrupted noise. Kedua metode tersebut akan menghasilkan nilai yang sama. Di sisi lain, rentang frekuensi hasil pengukuran akan bergantung pada tujuan dari pengukuran. Untuk tujuan survei, frekuensi setidaknya berada di rentang 250 Hz – 2,000 Hz sedangkan untuk tujuan bidang keteknikan atau hasil yang lebih presisi, frekuensi setidaknya berada di rentang 125 Hz – 4,000 Hz (octave bands) atau 100 Hz – 5,000 Hz (one-third octave bands).
Interrupted Noise Method
Sebuah Loudspeaker perlu digunakan sebagai sumber suara dan sinyal yang digunakan harus berasal dari broadband random atau pseudo-random electrical noise. Ketika menggunakan pseudo-random electrical noise, sinyal tersebut harus berhenti secara acak, tidak menggunakan sebuah repeated sequence. Untuk mendapatkan kurva peluruhan suara, sumber suara (Loudspeaker) harus menghasilkan tingkat tekanan suara yang cukup, setidaknya 35 dB di atas Background Noise pada rentang frekuensi yang sesuai. Namun apabila ingin mengetahui nilai parameter T30, maka, maka tingkat tekanan suara yang diperlukan adalah setidaknya 45 dB di atas Background Noise di setiap band frequencies.
Untuk pengukuran di frekuensi octave bands (satu oktaf), bandwidth sinyal harus lebih besar dari satu oktaf, dan hal yang sama berlaku untuk pengukuran dalam sepertiga-oktaf band, bandwidth sinyal harus lebih besar dari sepertiga oktaf. Sehingga, rentang frekuensi yang mencakup sepertiga-oktaf band dengan mid-band frequencies berada pada rentang 100 Hz – 5 kHz sedangkan untuk oktaf band frequencies berada pada rentang 125 Hz – 4kHz.
Untuk pengukuran untuk tujuan bidang keteknikan atau hasil yang lebih presisi, durasi eksitasi di ruangan harus cukup lama agar bidang suara dapat mencapai kondisi steady sebelum sumber dimatikan. Oleh karena itu, penting agar sumber suara dieksitasi setidaknya selama beberapa detik dan tidak kurang dari setengah kali waktu reverberation time. Sedangkan untuk tujuan survei, eksitasi singkat atau sinyal impuls dapat digunakan sebagai alternatif dari interrupted noise signal. Namun, dalam hal itu, akurasi pengukuran perlu dilakukan. Lihat bagian ketidak pastian pengukuran.
Eksitasi adalah penambahan tenaga pada suatu sistem yang mengalihkannya dari keadaan dasarnya ke suatu keadaan dengan tenaga yang lebih tinggi.
Jumlah posisi mikrofon yang akan digunakan ditentukan berdasarkan tabel berikut:

Karena sumber suara/sumber sinya memiliki karakteristik sebagai random signal, maka menentukan nilai rata – rata atas sejumlah pengukuran di setiap posisi perlu dilakukan untuk memenuhi ketidakpastian pengukuran. Untuk merata – ratakan jumlah pengukuran di setiap posisi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
Integrated Impulse Response
Respons impuls didapatkan dengan cara megukur langsung sumber impuls seperti tembakan pistol, dan juga sumber lain dengan spektrum yang luas seperti spark gap impulse, semburan kebisingan (noise burst), chirps dan MLSs. ISO 3382 tidak membatasi metode yang dapat digunakan untuk mendapatkan Respon Impuls. Namun, perlu diingat kembali bahwa, sumber suara harus memiliki tingkat tekanan yang kuat.
Respon impuls harus menghasilkan tingkat tekanan suara yang cukup, setidaknya 35 dB di atas Background Noise pada rentang frekuensi yang sesuai. Namun apabila ingin mengetahui nilai parameter T30, maka, maka tingkat tekanan suara yang diperlukan adalah setidaknya 45 dB di atas Background Noise di setiap pita frekuensi.
Untuk kasus tertentu, sinyal suara khusus dapat digunakan untuk menghasilkan respons impuls, setelah dilakukan pemrosesan khusus yang berasal dari sinyal mikrofon yang direkam, metode ini dijelaskan secara lengkap pada ISO 18233.
Metode ini dapat meningkatkan signal-to-noise ratio. Sine sweep atau pseudo-random noise seperti MLS dapat digunakan jika persyaratan untuk spektrum dan karakteristik arah dari sumber terpenuhi. Karena peningkatan signal-to-noise ratio maka persyaratan minimal untuk sumber sinyal dapat jauh lebih rendah daripada yang ditetapkan (lihat pada bagian sebelumnya). Naumn, jika rata-rata waktu digunakan, maka prosesnya perlu diverifikasi agar tidak mengubah respons impuls yang diukur. Dengan menggunakan teknik pengukuran ini, maka frequency filtering menjadi suatu hal yang wajib dalam proses analisis sinyal, sehingga sumber sinyal yang dilakukan harus mencakup pita frekuensi yang akan diukur.
Backward integration dari squared impulse response dapat digunakan untuk mendapatkan kurva peluruhan pada setiap pita oktaf atau band frequencies. Dalam keadaan ideal tanpa kebisingan latar belakang, integrasi harus dimulai pada akhir respon impuls (t → ∞) dan berlanjut pada bagian awal dari squared impulse response. Sehingga, peluruhan sebagai fungsi waktu dapat didefinisikan menjadi

p is the sound pressure of the impulse response as a function of time;
E is the energy of the decay curve as a function of time;
t is the time.
Integral dalam waktu yang terbalik atau reverse time seperti persamaan di atas sering diturunkan dengan melakukan dua integrasi, sehingga persamaan di atas dapat ditulis menjadi

Untuk meminimalisir pengaruh dari background noise pada respon impuls, maka deiperlukan metode khusus untuk mendapatkan energi pada kurva peluruhan. Jika background noise diketahui, tentukan titik awal integrasi, t1, sebagai persimpangan antara garis horizontal sebagai representasi dari background noise dan garis miring sebagai representasi dari squared impulse response dan hitung kurva peluruhan menggunakan persamaan berikut

Nilai yang reliable biasanya didapatkan ketika C dihitung dengan asumsi peluruhan energi eksponensial dengan laju yang sama seperti rentang waktu respon impuls kuadrat antara t0 dan t1, di mana t0 adalah waktu yang sesuai dengan tingkat suara lebih tinggi 10 dB dari level tingkat suara pada saat t1. Jika nilai C diatur menjadi nol, batas awal dari proses integrasi akan menyebabkan waktu dengung yang bias (systematic underestimation). Untuk maximum underestimation sebesar 5%, level dari background noise setidaknya harus mencapai nilai yang telah dievaluasi ditambah 15dB di bawah maksimum respon impuls. Misalnya, untuk penentuan T30, tingkat kebisingan latar belakang harus setidaknya 45 dB di bawah nilai maksimum.
4. Evaluasi Kurva Peluruhan
Untuk menentukan nilai T30 maka, kurva peluruhan yang dievaluasi berada pada rentang 5 dB sampai 35 dB di bawah tingkat tunak. Untuk metode integrasi respon impuls, tingkat tunak adalah total dari tingkat integrasi respon impuls. Dalam rentang evaluasi, a least-squares fit line harus dihitung untuk kurva atau, dalam kasus kurva peluruhan diplot secara langsung oleh perekam level, garis lurus harus dipasang secara manual sedekat mungkin dengan kurva peluruhan.
5. Ketidakpastian Pengukuran
Karena sifat ketidakpastian yang dimiliki oleh sinyal/sumber suara, maka ketidakpastian pengukuran pada metode interrupted noise method akan bergantung pada jumlah rata – rata pengukuran yang dilakukan. Deviasi standar dari hasil pengukuran σ (T20) atau σ (T30), masing-masing, dapat diperkirakan dari Persamaan berikut:

B adalah Bandwith dalam Hz
B = 0.71 fc untuk 1/1 octave filter
B = 0,23 fc untuk 1/3 octave filter
fc = Mid-band frequency
n adalah jumlah pengukuran peluruhan di setiap posisi
N adalah Jumlah dari posisi pengukuran independen (kombinasi posisi sumber dan penerima)
T20 adalah Reverberation time, berdasarkan rentang evaluasi sebesar 20 dB
T30 adalah Reverberation time, berdasarkan rentang evaluasi sebesar 30 dB
Secara teori, metode respon impuls terintegrasi sama dengan interrupted noise excitation. Untuk evaluasi secara praktikal dari ketidakpastian pengukuran menggunakan metode respon impuls terintegrasi, dapat dianggap sama menggunakan rata – rata pengukuran dengan nilai n = 10 di setiap posisi pengukuran menggunakan metode interrupted noise. Tidak diperlukan penambahan rata – rata untuk meningkatkan akurasi pengukuran.
6. Lower Limit
Untuk kasus reverberation yang sangat pendek, kurva peluruhan dapat dipengaruhi oleh filter dan detector . Forward analysis dapat dilakukan untuk menemukan lower limit yang sesuai. Lihat persamaan di bawah ini

B adalah Filter bandwidth (Hz)
T adalah Reverberation time terukur, (detik)
Tdet adalah Reverberation time, averaging detector (detik)
7. Spatial Averaging
Hasil yang diukur untuk posisi sumber dan mikrofon dapat dikombinasikan baik untuk area yang diidentifikasi terpisah atau untuk ruangan secara keseluruhan untuk memberikan nilai rata-rata spasial. Rata-rata spasial ini harus dicapai dengan rata-rata aritmatika dari reverberation time. Rata-rata spasial diberikan dengan mengambil rata-rata individual reverberation time untuk semua sumber independen dan posisi mikrofon. Deviasi standar dapat ditentukan untuk memberikan ukuran akurasi dan varians spasial dari reverberation time.
8. Parameter yang didapatkan dari Respon Impuls
Studi subjektif mengenai karakteristik akustik di sebuah auditorium telah menunjukkan bahwa beberapa parameter akustik yang didapatkan dari impuls respon berkaitan dengan aspek subjektifitas tertentu. Sementara, waktu dengung adalah satu penjelasan yang mendasar dari karakter akustik dari sebuah auditorium. Parameter yang terlampir dalam tabel di bawah ini diperoleh langsung dari mengintegrasikan respons impuls.

Berikut adalah penjelasan parameter yang terdapat pada Tabel 4
Sound Strength (G) adalah parameter yang mengukur tingkat di mana pendengar mengalami atau merasakan bunyi. G merupakan perbandingan dari energi bunyi di sebuah titik di dalam ruang dengan energi yang diukur di medan bebas dengan jarak 10m dari sumber bunyi. Parameter G menunjukkan seberapa besar level (gain) bunyi yang akan ditambahkan dalam nilai SPL kemudian dapat mengindikasikan muncul tidaknya risiko kebisingan yang dapat mempengaruhi kejelasan bunyi (Barron, 2010). Nilai G dapat dihitung menggunakan persamaan (dalam dB)

G = Kekuatan bunyi yang dirasakan pendengar
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik
p10(t) = p(t) di medan bebas berjarak 10 m
EDT adalah waktu dengung yang diukur pada pengurangan bunyi pertama sebesar 10dB, diukur dengan satuan millisecond (ms) dan merupakan skala pengukuran waktu dengung ruang yang lebih detail. EDT meruapakan parameter yang bersifat fundamental untuk mengukur kualitas ruang akustik untuk musik. Nilai EDT lebih penting dan berhubungan dengan waktu dengung yang diterima oleh pendengar, sedangkan waktu dengung memiliki hubungan dengan kondisi fisik sebuah ruang
Clarity atau kejernihan bunyi diukur dengan membandingkan antara energi bunyi yang digunakan (0.05 – 0.08 detik pertama setelah bunyi langsung) dengan bunyi pantulan yang datang setelahnya, dengan mengacu pada asumsi bahwa bunyi yang ditangkap pendengar dalam percakapan adalah antara 50-80 ms dan bunyi yang datang sesudahnya dianggap bunyi yang merusak. C50 lebih digunakan dalam pengukuran kualitas pidato, sedangkan C80 digunakan dalam penilaian kualitas ruang untuk fungsi musikal. Semakin tinggi nilai C, maka bunyi awal (bunyi langsung dan bunyi dari pantulan awal) mendominasi, sehingga tingkat impresi terhadap bunyi semakin tinggi . Nilai C80 dinyatakan dengan dB dan dapat dihitung dengan persamaan

Cte = Clarity
te = Batas waktu awal (50 / 80ms)
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik
Definition (D50) merupakan rasio perbandingan antara bunyi yang terlebih dahulu dengan total energi bunyi dan diukur dengan prosentase. Parameter ini biasanya digunakan untuk menilai kejelasan suatu percakapan atau pidato (Speech). Nilai D50 yang diancurkan untuk fungsi pidato (speech) adalah >65%. Nilai D50 dapat dihitung dengan persamaan berikut

D50 = Definition
t50 = Batas waktu awal (50ms)
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik
Centre time merupakan waktu tengah antara suara datang dan suara pantul atau bisa disebut juga pusat gravitasi dari respons impuls. Parameter ini menunjukkan tingkat kejelasan bunyi dan berkaitan dengan nilai EDT. Nilai Ts yang rendah menandakan bunyi yang jelas dam sebaliknya. Nilai Ts dinyatakan dengan ms dapat dihitung dengan persamaan:

Ts = Centre Time
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik
Lateral fraction adalah rasio energi bunyi yang dipantulkan secara lateral dalam ruangan dibandingkan energi bunyi yang datang dari semua arah termasuk energi bunyi langsung dari sumbernya. Nilai LF yang baik akan diperoleh jika bunyi yang didengar oleh pendengar/penonton memiliki kekuatan yang setara antara telinga kiri dan kanan sehingga membentuk kesan stereo. Nilai LF dapat dihitung dengan persamaan

LF = Lateral Fraction
pL(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik yang diukur
p(t) = Kekuatan bunyi dari respons impuls di sebuah titik

Asosiasi Akustik dan Vibrasi Indonesia (AAVI) pada tanggal 5 dan 6 Agustus 2019 mengadakan workshop yang bertajuk “Workshop on Acoustics Technology for Industry and Professionals”. Workshop ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai teknologi akustik terkini untuk para praktisi di industri dan juga professional yang bekerja pada bidang yang berkaitan dengan akustik.
Pada acara ini, Geonoise Indonesia berkesempatan untuk memberikan kontribusi dengan menjadi pembicara pada acara tersebut. Salah satu engineer Geonoise Indonesia, Hizkia Natanael, mengisi sebuah sesi yang diberi judul “Urban Noise Predictions: Why and How We Do It”. Kesempatan ini kami gunakan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kami mengenai kalkulasi kebisingan di perkotaan, terutama dari sudut pandang praktisi.
Hal yang pertama dibahas yakni mengenai mengapa kebisingan di perkotaan perlu untuk diprediksi. Sedikitnya terdapat dua alasan yang berhubungan dengan hal ini. Pertama, kebisingan memiliki dampak yang buruk pada kesehatan dan kesejahteraan publik. Karena hal inilah, kebisingan perlu diperhitungkan pada tahap perencanaan sebuah kegiatan ataupun proyek, sehingga kebisingan dapat berada pada tingkat yang dapat diterima oleh publik. Oleh karena hal inilah, terdapat alasan kedua yaitu agar memenuhi persyaratan yang ditentukan regulasi. Regulasi terkait kebisingan dibuat agar kebisingan yang diterima publik memiliki dampak yang masih terkontrol.
Regulasi terkait kebisingan dapat digolongkan menjadi dua yaitu immission dan emission. Regulasi yang digolongkan sebagai immission adalah regulasi yang mengatur seberapa banyak kebisingan boleh diterima oleh penerima bising. Di Indonesia, salah satu contoh dari regulasi ini adalah KepMen LH No. 48 Tahun 1996 tentang baku mutu kebisingan. Pada keputusan ini, tingkat kebisingan diatur baku mutunya untuk setiap jenis kawasan. Misalnya, pada kawasan pemukiman, kebisingan maksimal adalah Lsm < 55 dBA dengan toleransi 3 dB (tingkat kebisingan siang malam, dengan penalti 5dB pada malam hari).
Kategori lainnya yaitu regulasi terkait emisi kebisingan adalah regulasi yang mengatur seberapa banyak kebisingan boleh diemisikan oleh sumber kebisingan. Contoh dari regulasi ini di Indonesia adalah PerMen LH No.7 tahun 2009 tentang ambang batas kebisingan kendaraan bermotor tipe baru. Pada peraturan ini, setiap kendaraan motor tipe baru harus diuji emisi kebisingannya dengan metoda yang diatur pada PerMen yang sama.
Pada bagian kedua dari sesi ini, kami berbagi mengenai metoda yang biasa digunakan oleh praktisi untuk memprediksi kebisingan di perkotaan. Standar kalkulasi kebisingan yang biasa digunakan terbagi menjadi dua yaitu emisi dan propagasi. Pada kalkulasi emisi, tingkat daya suara dari sumber kebisingan dihitung berdasarkan karakteristik sumber bunyi tersebut. Misalkan untuk menghitung emisi bising dari jalan raya, dibutuhkan data mengenai jumlah kendaraan, kecepatan kendaraan, jenis kendaraan yang melewati jalan tersebut dan sebagainya. Pada standar perhitungan propagasi, dihitung kebisingan yang diterima oleh penerima kebisingan karena propagasi suara dari sumber.
Pada kesempatan ini juga kami membuat sebuah “study case” jika akan dibangun rel kereta layang pada jalan Dago di Bandung. Kami menggunakan software SoundPLAN 8.1 untuk memprediksi kebisingan yang diterima oleh salah satu rumah sakit pada jalan tersebut.
Selain dari Geonoise Indonesia, pembicara pada acara ini adalah:


Salah satu hal yang menjadi masalah tak terduga suatu bangunan berkaitan dengan sistem HVAC adalah kebisingan yang ditimbulkannya. Penghitungan kebisingan hasil dari akumulasi bagian-bagian dari sistem HVAC sangat diperlukan, agar tidak terjadi kebisingan di ruangan-ruangan yang diinginkan.
Apa yang perlu diperhatikan dalam mendesain sistem HVAC?
Apakah ada langkah singkat untuk menghindarinya?
Dalam artikel ini akan dibahas secara singkat terkait kebisingan yang terjadi pada system HVAC dan bagaimana menghindarinya.
Setiap suara yang terdengar biasanya dapat diidentifikasi melalui range frekuensi kebisingannya, begitupun dengan kebisingan yang berasal dari sistem HVAC. Kebisingan yang berkaitan dengan sistem HVAC dibagi menjadi 3 cakupan frekuensi, yaitu:
Kebisingan dari Fan, secara umum cakupannya adalah pada frekuensi 16 Hz hingga 250 Hz;
Variable Air Volume (VAV) Box Noise pada range frekuensi 125 Hz hingga 500 Hz.
Airflow ataupun kebisingan hasil turbulensi yang terjadi pada duct berkisar pada range frekuensi 31.5 Hz – 1000 Hz.
Kebisingan Damper dan diffuser yang memberikan kebisingan pada range frekuensi 1000 Hz – 4000 Hz.
Ketiga kategori yang telah dijelaskan di atas dapat dihindari dengan mengetahui dari mana saja kebisingan tersebut berasal sehingga dapat menjadi perhatian lebih ketika mendesain saluran duct, seperti bentuk duct dan material yang dipakai pada setiap komponen sistem HVAC. Banyak cara agar suara dari sumber tertentu menjalar ke suatu area atau tempat, namun secara garis besar kebisingan pada sistem HVAC menjalar melalui 5 hal, diantaranya:

Ductborne Noise berasal dari suara fan yang menjalar di sepanjang duct baik upstream maupun downstream terhadap arah arus fan. Penjalaran terjadi dengan mudah dan cepat karena kecepatan suara lebih cepat dari kecepatan udara dalam duct itu sendiri. Noise menjalar melalui saluran duct dan memberi kebisingan pada ruangan penerima, baik lokasi supply maupun return air.
Radiated equipment noise atau kebisingan yang berasal dari radiasi peralatan bising HVAC terjadi melewati lantai, atap ataupun dinding. Hal ini menjadikan suara bising terdengar pada ruangan sekitarnya. Contohnya, ketika pemasangan unit HVAC berada di samping ruang kerja, dengan sistem insulasi suara dinding pemisah yang kurang baik, maka suara unit HVAC akan menembus dinding dan terdengar di ruang kerja maupun di ruang sekitar unit HVAC.
Kebisingan yang bersumber dari Ceiling Plenums atau dari perangkat Air Conditioning, ruang pemasangan dan sumber bising lainnya, akan menembus saluran duct dan kemudian menjalar menuju ruangan bersamaan dengan arus pada saluran duct. Jadi jika dimungkinkan, hindari duct melalui area bising sehingga tidak ada kebisingan yang masuk ke dalam system duct, atau jika ditinjau dari duct, hindari penggunaan material duct ringan dengan kemampuan insulasi yang rendah jika melewati ruangan-ruangan yang bising.
Kebisingan juga dapat keluar dari dalam saluran duct lewat perimeter duct itu sendiri, hal ini akan memberikan kebisingan pada ruangan atau area sekitar duct tersebut. Umumnya hal ini terjadi dari suara bising fan, kebisingan aerodinamis (regenerated noise) di dalam duct, dan turbulensi airflow yang menyebabkan duct bergetar dan menghasilkan suara gaduh yang meradiasikan frekuensi rendah airborne noise.
Bagian akhir dari rantai distribusi udara pada system HVAC adalah perangkat terminal air yang diantaranya mencakup grille, diffuser, register, dan vent cover yang terbuka langsung terhadap ruang penerima. Kebisingan yang melewati diffuser dan perangkat transisi ini akan bertambah pada ruang penerima jika terdapat kemungkinan bergetar ataupun pertemuan dua arah arus udara yang berbeda. Untuk permasalahan ini yang dibutuhkan adalah penggunaan peralatan dengan spesifikasi yang baik untuk perangkat pada supply dan juga return serta desain pembelokan duct yang kurang baik. Untuk memudahkan biasanya beberapa manufaktur memberikan kode rating NC (Noise Criteria) pada perangkatnya, pilihlah sesuai dengan kebutuhan NC ruangan.
Dengan mengetahui kelima cara kebisingan tercipta, kita dapat dengan mudah mengkategorikan kebisingan pada system HVAC yang akan kita buat. Hal ini akan membantu menuntun kita dalam hal pemilihan material duct, sistem percabangan duct, enclosure unit Air Conditioning, tipe duct dan lain sebagainya sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan bising yang akan terjadi.
Komentar Terbaru